katanya menambahkan. Meski demikian, dia mengakui bahwa dua jalur nasional, yaitu rute Kota Padang Panjang dan Sicincin, masih terputus sama sekali. Keterputusan inilah yang membuat bantuan udara menjadi satu-satunya harapan untuk daerah tersebut.
Karena itulah, hanya dua heli dan satu pesawat yang disiagakan untuk menjangkau daerah yang terisolasi. Meski dengan sumber daya terbatas, bantuan logistik seperti sembako, kasur lipat, dan makanan siap saji konon sudah berhasil didistribusikan ke seluruh 8 kabupaten dan kota yang terdampak, termasuk Padang Pariaman, Pesisir Selatan, hingga Kota Bukittinggi.
Sementara itu, angka pengungsi tercatat sangat tinggi, mencapai 77.918 jiwa. Pola pengungsiannya unik; lokasi pengungsian ramai pada malam hari, namun sepi di siang hari karena warga pulang untuk membersihkan puing-puing dan menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan dari rumah mereka.
Secara keseluruhan, angka korban bencana di Sumbar cukup menyesakkan. 129 warga dilaporkan meninggal dunia, dan 118 lainnya masih dinyatakan hilang. Pencarian untuk mereka yang hilang terus dilakukan tanpa henti oleh gabungan petugas dari berbagai instansi.
Di sisi lain, jika dibandingkan dengan kondisi di Aceh dan Sumatera Utara yang juga dilanda bencana serupa, situasi di Sumatera Barat dinilai sudah menunjukkan perbaikan. Perlahan, meski tertatih, kehidupan mulai mencari jalannya kembali.
Artikel Terkait
Banjir Rendam Rel, Delapan Kereta Jakarta-Semarang Terhambat
Candi Palgading: Jejak Mataram Kuno yang Bertahan di Tengah Gempuran Perumahan Sleman
Pendaki Muda Ditemukan Tewas di Jurang Terpencil Gunung Slamet
Kelahiran Pertama Macan Tutul Amur di Wina Setelah Delapan Tahun