Agam dan Solok Paling Parah, Bantuan Logistik Sumbar Mulai Tersalur

- Minggu, 30 November 2025 | 23:36 WIB
Agam dan Solok Paling Parah, Bantuan Logistik Sumbar Mulai Tersalur

Kabupaten Agam dan Kota Solok menjadi wilayah yang paling menderita akibat banjir dan tanah longsor di Sumatera Barat. Kerusakannya cukup parah, terutama pada infrastruktur vital seperti jembatan dan jalan.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto secara khusus menyoroti kedua daerah itu.

"Yang masih menjadi perhatian utama adalah yang di Agam kemudian di Solok dan pesisir Selatan untuk bencananya, yang terdampak bencana seperti jembatan putus, jalan rusak, dan lain sebagainya,"

ungkapnya dalam keterangan pers Minggu (30/11). Situasi di Agam sungguh memilukan. Korban jiwa dilaporkan mencapai 87 orang, sementara 76 warga lainnya masih hilang, terperangkap atau tersapu oleh amukan alam.

Namun begitu, ceritanya agak berbeda di Kabupaten Padang Pariaman. Di sana, nuansanya mulai berubah. Warga yang sempat mengungsi terlihat sudah mulai berani pulang ke rumah mereka masing-masing. Mereka seperti menjalani rutinitas baru; siang hari membersihkan rumah, malam hari kadang kembali ke tempat pengungsian, mungkin karena rasa trauma atau sekadar memanfaatkan dapur umum yang sudah beroperasi.

Bantuan Masih Mengalir Lewat Darat

Di tengah semua keterbatasan, ada kabar yang cukup melegakan. Suharyanto menegaskan bahwa secara umum, distribusi bantuan logistik ke wilayah Sumatera Barat masih bisa dilakukan melalui jalur darat. Rute-rute utama sebagian besar masih dapat dilalui kendaraan pengangkut.

"Secara umum untuk transportasi (logistik) ini rata-rata masih bisa dilalui lewat darat,"

katanya menambahkan. Meski demikian, dia mengakui bahwa dua jalur nasional, yaitu rute Kota Padang Panjang dan Sicincin, masih terputus sama sekali. Keterputusan inilah yang membuat bantuan udara menjadi satu-satunya harapan untuk daerah tersebut.

Karena itulah, hanya dua heli dan satu pesawat yang disiagakan untuk menjangkau daerah yang terisolasi. Meski dengan sumber daya terbatas, bantuan logistik seperti sembako, kasur lipat, dan makanan siap saji konon sudah berhasil didistribusikan ke seluruh 8 kabupaten dan kota yang terdampak, termasuk Padang Pariaman, Pesisir Selatan, hingga Kota Bukittinggi.

Sementara itu, angka pengungsi tercatat sangat tinggi, mencapai 77.918 jiwa. Pola pengungsiannya unik; lokasi pengungsian ramai pada malam hari, namun sepi di siang hari karena warga pulang untuk membersihkan puing-puing dan menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan dari rumah mereka.

Secara keseluruhan, angka korban bencana di Sumbar cukup menyesakkan. 129 warga dilaporkan meninggal dunia, dan 118 lainnya masih dinyatakan hilang. Pencarian untuk mereka yang hilang terus dilakukan tanpa henti oleh gabungan petugas dari berbagai instansi.

Di sisi lain, jika dibandingkan dengan kondisi di Aceh dan Sumatera Utara yang juga dilanda bencana serupa, situasi di Sumatera Barat dinilai sudah menunjukkan perbaikan. Perlahan, meski tertatih, kehidupan mulai mencari jalannya kembali.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar