Suara yang Tak Lagi Bisa Dibungkam
Beberapa bulan terakhir, gelombang femisida di Afrika bukan cuma soal angka statistik yang mengerikan. Ini lebih dari itu. Ini adalah ledakan suara perempuan-perempuan yang sudah muak dibungkam. Ribuan dari mereka membanjiri jalanan, mengacungkan poster bertuliskan "Stop killing women" dan "Protect us alive, not dead". Intinya cuma satu: mereka tidak butuh belas kasihan. Yang mereka tuntut adalah hak paling dasar, yaitu hak untuk hidup. Dan jujur saja, aksi massal ini membuat dunia internasional tak bisa lagi pura-pura tutup mata.
Selama ini, femisida sering dianggap sekadar masalah kriminal domestik. Padahal, di banyak negara Afrika, pembunuhan perempuan oleh pasangan atau mantan pasangan sudah lama menjadi fenomena sosial yang sangat serius. Laporan polisi kerap diabaikan. Pelaku dibebaskan dengan hukuman ringan. Korban malah disalahkan. Di tengah situasi seperti itu, jalanan menjadi ruang terakhir untuk menuntut keadilan. Makanya, kita lihat aksi-aksi seperti long march, "protes berbaring", sampai mogok kerja perempuan. Bentuknya beda-beda, tapi esensinya sama: nyawa perempuan bukanlah sesuatu yang bisa ditawar.
Melihat semua ini, satu pertanyaan terus mengusik. Kenapa dunia baru bergerak ketika perempuan sudah turun ke jalan? Padahal, kekerasan ini sudah berlangsung lama sekali. Nyawa perempuan melayang satu per satu, jauh sebelum istilah "Femisida Afrika" menjadi viral. Suara mereka baru dianggap penting ketika sudah menjadi "gangguan" bagi publik. Ini membuktikan satu hal yang pahit: kita hidup dalam budaya yang baru peduli kalau perempuan sudah berteriak bersama-sama.
Akar Kemarahan di Afrika
Gerakan ini tentu tidak muncul tiba-tiba. Ia adalah puncak gunung es dari kemarahan, duka, dan kegagalan sistem yang menumpuk. Di banyak negara Afrika, femisida dibiarkan terjadi karena tiga masalah utama: patriarki yang masih sangat kuat, kesenjangan ekonomi yang lebar, dan sistem hukum yang lemah. Banyak perempuan sudah berani melapor, tapi tidak ditangani serius. Banyak pelaku hanya mendapat hukuman simbolis. Masyarakat pun sering menyalahkan korban. Dalam kondisi seperti itu, protes jalanan bukan lagi sekadar pilihan. Bagi banyak orang, itu adalah satu-satunya "alat bertahan hidup" yang tersisa.
Yang paling menggetarkan dari demonstrasi anti-femisida di Afrika sebenarnya bukan cuma jumlah massanya yang besar. Tapi lebih pada kesadaran kolektif yang tumbuh di antara para perempuan. Mereka kini percaya bahwa perubahan tidak akan datang jika mereka hanya diam menunggu. Ada pemahaman baru yang mengkristal: perlindungan bukanlah sesuatu yang ditunggu dari negara, melainkan sesuatu yang harus dituntut dengan tegas.
Artikel Terkait
Agam dan Solok Paling Parah, Bantuan Logistik Sumbar Mulai Tersalur
MUI Serukan Shalat Ghaib dan Bantuan Nyata untuk Korban Bencana Aceh-Sumut-Sumbar
Kemensos Gelontorkan Bantuan Rp19 Miliar untuk Korban Banca di Tiga Provinsi Sumatera
Tim BPBD Jibrak Arus Deras, Bantuan Logistik Akhirnya Tiba di Korban Banjir Bandang Aceh