Ngopi Pagi: Etika di Publik di Era Media Sosial
Pagi punya caranya sendiri untuk membuat kita jujur. Di antara asap kopi dan sinar matahari yang mulai masuk lewat jendela, pikiran terasa lebih bening. Dan dalam kejernihan itu, satu pertanyaan mengganggu: sebenarnya, bagaimana kabar etika kita di ruang publik sekarang?
Kehadiran kita berubah total gara-gara media sosial. Cara ngomong, cara ngerasa, bahkan cara memandang orang lain semuanya ikut berubah. Ruang publik yang dulu dijaga dengan semacam kesepakatan tak tertulis, sekarang rasanya seperti panggung terbuka. Semua bisa dilihat, direkam, dikomentari. Seringkali, tanpa izin. Dan yang lebih parah, tanpa empati sama sekali.
Dulu, kita belajar sopan santun dari tatapan orang. Dari raut wajah yang tak nyaman, atau dari keheningan yang tiba-tiba muncul sebagai tanda kita sudah keterlaluan. Sekarang? Layar ponsel jadi pembatas. Kita bicara pada kamera, bukan pada manusia yang berdiri di depan kita. Dan saat manusia cuma jadi gambar di layar, etika pun pelan-pelan kabur maknanya.
Lihat saja sekarang. Banyak yang merasa punya hak penuh untuk merekam apa pun di tempat umum. Orang lagi marah-marah, lagi jatuh, lagi bersedih semuanya berpotensi jadi konten. Alasannya macam-macam. Katanya buat hiburan, atau edukasi. Atau alasan paling klise: "kan ini kejadian nyata".
Yang sering dilupakan cuma satu: apa yang 'nyata' buat kita, bisa jadi luka yang dalam buat orang lain.
Ada pergeseran nilai di sini, halus tapi berbahaya. Validasi dari dunia digital perlahan menggerus pertimbangan moral kita sendiri. Like dan share seolah jadi ukuran kebenaran. Viral dianggap lebih penting daripada pantas. Akhirnya, pertanyaannya bukan lagi "ini bener apa nggak?", tapi "ini menarik apa nggak sih?".
Ironisnya, media sosial yang katanya bikin kita makin dekat, justru sering bikin kita makin jauh. Kita sibuk bangun citra, tapi lupa jaga perasaan. Sibuk mengoreksi orang lain, tapi malas bercermin. Pengen didengar, tapi enggan mendengar. Menuntut dihormati, tapi sering abai buat menghormati.
Artikel Terkait
Mengapa Kita Lebih Mudah Berharap Daripada Bersyukur?
Wagub Babel Diperiksa Bareskrim, Ijazah Diklaim Cuma Belum Dilegalisir
Ketika Algoritma Menjadi Hakim Cinta: Red Flag yang Menggerus Relasi Manusia
TikTokable atau Tidak? Destinasi Hits 2026 dan Trik Simpan Video Tanpa Watermark