Gelombang Protes Perempuan Afrika: Nyawa Bukan Harga Mati untuk Ditawar

- Minggu, 30 November 2025 | 22:06 WIB
Gelombang Protes Perempuan Afrika: Nyawa Bukan Harga Mati untuk Ditawar

Cermin Buram untuk Indonesia

Membicarakan Afrika bukan berarti kita di Indonesia lebih baik. Jangan salah. Di tanah air, kasus kekerasan berbasis gender termasuk pembunuhan oleh pasangan intim juga terus menunjukkan tren yang meningkat. Memang, kita punya undang-undang dan berbagai kampanye. Tapi realitanya? Banyak penyintas masih takut melapor. Pelaku bebas berkeliaran. Masyarakat masih gemar menyalahkan korban. Intinya, kita tidak jauh berbeda dari kondisi di Afrika. Satu-satunya pembeda, mungkin kita belum sepenuhnya mencapai fase "sudah tidak tahan lagi".

Karena itulah, aksi jalanan di Afrika menjadi semacam cermin yang penting untuk kita renungkan. Pertanyaan yang menggelitik adalah: jika kekerasan terhadap perempuan di Indonesia semakin menjadi-jadi, apakah kita akan punya nyali untuk bersuara lantang? Atau justru kita akan terus berharap sistem berubah dengan sendirinya, tanpa ada tekanan dari publik?

Pelajaran terbesar dari fenomena Femisida Afrika bukan cuma tentang angka kekerasan yang mengkhawatirkan. Tapi tentang bagaimana perubahan bisa lahir ketika masyarakat memutuskan untuk berhenti diam. Perempuan Afrika tidak menunggu keadaan membaik. Mereka yang memaksa keadaan untuk berubah.

Demonstrasi jalanan di Afrika mengingatkan semua orang bahwa femisida bukanlah urusan privat. Ini adalah krisis kemanusiaan. Gerakan itu menyampaikan pesan yang tidak hanya ditujukan kepada pemerintah Afrika, tapi juga kepada kita di Indonesia: kehidupan perempuan tidak boleh direduksi menjadi sekadar statistik. Perlindungan terhadap perempuan bukanlah hadiah, melainkan kewajiban mutlak negara.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi "kapan pemerintah akan berubah?". Tapi, "kapan kita akan berhenti membiarkan kekerasan dianggap sebagai hal yang wajar?". Ketika perempuan Afrika berteriak lantang di jalanan, itu bukan cuma sekadar protes. Itu adalah ajakan global untuk tidak menunggu sampai salah satu dari kita menjadi korban berikutnya, baru kita mulai peduli.


Halaman:

Komentar