Islah Bahrawi, seorang tokoh dari Madura, menyuarakan kegelisahan yang dalam. Ia menggambarkan betapa kita kerap terhenyak oleh berita-berita pilu. Ambil contoh, ada anak kecil yang nekat mengakhiri hidupnya. Penyebabnya sederhana sekaligus menyayat: ia tak tega meminta uang pada orang tuanya hanya untuk membeli alat tulis.
Itu baru satu cerita. Di sisi lain, kita dengar ada Kapolresta yang justru terlibat bisnis narkoba. Sementara daya beli masyarakat merosot, pemerintah malah sibuk mengimpor ratusan ribu mobil dari India. Belum lagi soal oknum tentara yang bermain dalam bisnis MBG atau Kopdes Merah Putih. Sungguh, daftar masalah ini seakan tak ada habisnya.
"Kita sebenarnya tahu," ujar Islah, suaranya terdengar berat.
"Kita hanya pura-pura tidak tahu. Nyatanya, banyak pensiunan tentara yang terlibat dalam bisnis perkebunan, kehutanan, sawit, sampai pertambangan. Sebagai anak bangsa, ini sangat memilukan. Pemerintah terkesan hanya ingin kenyang sendiri. Mereka membuat program yang bagus untuk pemerintah, tapi tidak untuk negara."
Pernyataannya itu disampaikan dalam sebuah wawancara pada Jumat, 27 Februari 2026.
Islah menekankan, hak dasar rakyat untuk mendapat pendidikan dan fasilitas yang layak seolah dirampas. Digantikan oleh program-program populis yang ujung-ujungnya cuma menguntungkan segelintir penguasa, bukan negara apalagi rakyat kecil.
Menurutnya, pembicaraan tentang 'negara' sekarang sudah bergeser. Yang kita bahas cuma pemerintah dan penguasa, sementara rakyat terlupakan. Situasinya membuat kita sulit untuk terus bersikap optimis. Bahkan, harus diakui, pesimisme itu wajar adanya.
"Coba lihat bagaimana Menteri Keuangan bicara, atau pernyataan-pernyataan yang keluar dari Istana," lanjut Islah.
"Semuanya terdengar seperti basa-basi belaka. Belum lagi laporan BPS soal pertumbuhan ekonomi. Angkanya mungkin bagus, tapi terasa artifisial. Statistik itu seolah dibuat hanya untuk menutupi realita sesungguhnya yang pahit."
Ia mengajak pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, untuk benar-benar membuka mata. Ketuk dada, lihat fakta di lapangan. Ingatlah bahwa seorang presiden adalah pemimpin seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya sibuk bergaul dengan pemimpin negara lain.
Bagi Islah, fokus pada urusan dalam negeri jauh lebih penting. Jangan asyik masyuk memuji Donald Trump atau sibuk dengan pencitraan internasional. Semua itu, tegasnya, tak ada gunanya bagi rakyat. Bahkan, tidak menguntungkan secara elektoral sekalipun.
"Rakyat sekarang cuma menghadapi piring setengah kosong," katanya dengan nada prihatin.
"Saat Lebaran nanti, ibu-ibu mungkin tak lagi sanggup beli ayam utuh atau hidangkan makanan berlimpah. Ekonomi sudah mulai mencekik. Mohon maaf, Pak Prabowo, kami lebih memilih menyuarakan suara rakyat daripada bisik-bisik kekuasaan yang juntrungannya tidak jelas. Arah negara ini semakin tak karuan."
Dan itu belum termasuk gemuruh politik di kalangan elit. Pertempuran mereka pada akhirnya cuma mengorbankan rakyat. Sementara para elite berebut kue kekuasaan yang besar, rakyat hanya berharap remahannya untuk mengisi perut.
Karena itulah, Islah memohon. Presiden jangan lagi asyik dengan kue kekuasaan itu. Pikirkan mereka yang tak sanggup beli pena, yang kesulitan membeli beras pulen nan enak karena harganya sudah menjulang.
"Datanglah ke bawah kalau tidak percaya," pungkas Islah.
"Kami semua merasakan hidup yang semakin susah. Saya mohon kepada Bapak Presiden dan seluruh jajaran pemerintahannya: berhentilah berpikir untuk selamat sendiri. Yang perlu diselamatkan adalah 280 juta jiwa rakyat Indonesia."
Artikel Terkait
Raffi Ahmad Penuhi Amanah Terakhir Jupe, Bantu Ibunda yang Terpuruk Ekonomi
Ketua Ombudsman RI Ditahan sebagai Tersangka Kasus Korupsi Nikel
Unhas Tanggapi Laporan Pungli Terhadap Pengusaha Rental Papan Ucapan di Area Kampus
Warga Jemur Gabah di Badan Jalan Bypass Mamminasata, Lalu Lintas Tetap Ramai