Kematian Khamenei dan Pencarian Penerus yang Mendebarkan
Dunia terhenyak. Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang berkuasa dengan keras selama puluhan tahun, tewas. Serangan gabungan AS dan Israel disebut-sebut sebagai dalang di baliknya. Kini, satu pertanyaan besar menggantung: siapa yang akan menggantikannya?
Menurut laporan dari Al-Jazeera dan CNN, rezim ulama di Tehran benar-benar dihadapkan pada teka-teki yang pelik. Soalnya, Khamenei tak pernah mengumumkan secara resmi siapa penerusnya. Padahal, dia memegang kendali hampir empat dekade. Vacuum power ini, tentu saja, menciptakan situasi yang sangat genting.
Nah, tugas berat itu kini berada di pundak Majelis Pakar. Badan yang terdiri dari 88 ulama senior ini punya wewenang penuh untuk memilih pemimpin baru. Sejujurnya, ini adalah momen langka. Sejak Republik Islam berdiri tahun 1979, mereka hanya pernah sekali melakukannya yaitu saat memilih Khamenei sendiri dengan terburu-buru setelah Khomeini wafat, lebih dari tiga puluh tahun silam.
Pemerintah Iran pasti akan berusaha mati-matian menunjukkan bahwa negara mereka tetap stabil. Konon, para anggota majelis akan segera berkumpul untuk membahas nama-nama calon sebelum akhirnya menentukan pilihan. Tapi, apakah mereka berani?
Soalnya, ancaman dari AS masih nyata. Presiden Donald Trump sudah bersumpah bahwa serangan bom ke rezim ini akan terus berlanjut. Mengadakan pertemuan besar dalam kondisi seperti ini jelas mengandung risiko yang tidak main-main.
Di sisi lain, para ahli itu harus jeli. Calon pengganti harus memenuhi syarat ketat dalam konstitusi: pria, ulama, punya kompetensi politik, berwibawa, dan tentu saja loyal sepenuhnya pada Republik Islam.
"Majelas bisa saja menafsirkan aturan itu dengan sangat ketat," kata seorang pengamat.
Artinya, ulama-ulama beraliran reformis yang mendukung kebebasan lebih luas dan membuka diri pada dunia, kemungkinan besar akan tersingkir dari proses ini. Pilihan akan jatuh pada figur yang dianggap aman, kuat, dan mampu menjaga status quo. Perburuan penerus Khamenei baru saja dimulai, dan jalan di depannya dipenuhi ranjau.
Artikel Terkait
Pemerintah Luncurkan Dana Bantuan IndonesiaRaya untuk Program Budaya Berkelanjutan
Wartawan Senior Indonesia Resmi Bentuk Wadah Khusus untuk Usia 60 Tahun ke Atas
Delegasi Singapura Kagumi Pendekatan Budaya dalam Pembinaan Narapidana di Bali
Guru Ngaji di Puncak Dilaporkan ke Polisi Diduga Lecehkan Murid