Suruh Orang Lain Berbuat Baik, Diri Sendiri Lupa?

- Jumat, 19 Desember 2025 | 10:25 WIB
Suruh Orang Lain Berbuat Baik, Diri Sendiri Lupa?

Oleh: Khaerul Anam

Pernahkah kita menyadari sebuah ironi? Di tengah melimpahnya sumber ilmu agama dari pengajian, buku, sampai unggahan media sosial masih ada saja orang yang begitu lihai memberi nasihat, tapi lupa mengintrospeksi diri sendiri. Fenomena klasik ini, rupanya, sudah disinggung Allah SWT jauh-jauh hari.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 44, firman-Nya:

أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

“Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab? Tidakkah kamu berpikir?”

Ayat itu bukan sekadar teguran biasa. Ia menyentak. Menohok langsung ke titik kelemahan kita yang sering memisahkan teori dengan praktik. Ilmu agama kadang cuma jadi hiasan kata-kata, bukan pedoman yang mengubah sikap. Padahal, bukankah tujuan utamanya justru menumbuhkan ketakwaan dan memperbaiki amal?

Menurut sejumlah riwayat, ayat ini turun menyoroti sikap munafik sebagian ahli kitab di Madinah. Mereka tahu kebenaran, bahkan mendorong orang lain untuk mengikuti Rasulullah, tapi diri mereka sendiri enggan.

Ibnu Abbas, seperti dikutip dari Al-Wahidi, mengisahkan, “Seorang dari mereka berkata kepada keluarganya dan kerabat dekatnya yang Muslim, ‘Tetaplah di atas agamamu dan taatlah pada orang itu (Muhammad), karena apa yang ia bawa adalah benar.’”

Mereka menyuruh, tapi tak mau melakukannya.

As-Suddi juga punya catatan serupa. Bani Israel dulu gemar memerintahkan orang lain bertakwa dan berbuat baik. Sayangnya, perintah itu tidak mereka jalani sendiri. Alhasil, celaan dari Allah pun datang.

Menyelami Makna yang Lebih Dalam

Imam ath-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan, meski awalnya ditujukan ke kaum Yahudi, pesan ayat ini bersifat universal. Ia berlaku untuk siapa saja yang punya ilmu, terutama ilmu agama, namun abai mengamalkannya. Peringatan yang keras, tapi sangat perlu.

Lalu, apakah ini berarti kita dilarang mengajak kepada kebaikan? Sama sekali tidak. Ibnu Katsir menegaskan poin penting: ayat ini justru menekankan pentingnya keteladanan. Orang yang menyeru kebaikan harus jadi contoh pertama. Tanpa itu, nasihat akan kehilangan gregetnya. Bak pepatah, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” tapi dalam konteks yang positif.

Al-Qurthubi malah menambahkan beban tanggung jawab itu. Bagi orang berilmu, kata dia, dosa bisa lebih besar jika tahu kebenaran tapi tak diamalkan. Ilmu seharusnya menggerakkan, bukan cuma jadi simpanan.

Dari sudut lain, Fakhruddin Ar-Razi mengajak kita berpikir logis. Pertanyaan “afalā ta‘qilūn” – “tidakkah kamu berpikir?” – menegaskan bahwa sikap tidak konsisten antara ucapan dan perbuatan itu jelas-jelas tidak masuk akal. Nggak logis. Orang yang waras pasti akan berusaha menyelaraskan keduanya.

Nabi Muhammad Saw juga pernah menggambarkan konsekuensi mengerikan lewat sebuah hadis. Diceritakan, di akhirat nanti ada seorang yang ususnya terburai, berputar-putar di neraka seperti keledai mengitari penggilingan. Saat ditanya para penghuni neraka, ia menjawab dengan penuh penyesalan:

“Dulu aku suka menyuruh orang berbuat baik, tapi aku sendiri tidak melakukannya. Aku juga melarang kemungkaran, justru aku yang melakukannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Bayangan itu saja sudah cukup membuat kita merinding. Jelas, tanggung jawab moral orang yang berilmu dan berdakwah itu jauh lebih berat.

Relevansi yang Tak Pernah Pudar

Kalau kita jujur, pesan ayat ini terasa sangat dekat dengan kenyataan hari ini. Banyak, kan, orang yang piawai berceramah atau menulis nasihat agama, tapi dalam kesehariannya? Nilai-nilai yang ia kumandangkan seolah mandek di panggung, tidak meresap ke dalam lakon hidupnya.

Persoalannya sering bukan pada kurangnya ilmu. Tapi pada komitmen. Pada konsistensi yang lemah.

Di sinilah hikmah utamanya: kita diajak untuk selalu menjaga keseimbangan. Antara tahu dan melakukan. Dalam Islam, kualitas seseorang tidak cuma diukur dari seberapa tebal buku yang dibaca atau seberapa fasih ia berbicara, tapi dari sejauh mana ilmunya mewujud dalam tindakan nyata.

Maka, sebelum menyuruh orang lain shalat tepat waktu, sudahkah kita disiplin? Sebelum menasihati tentang kejujuran, sudahkah kita jujur dalam hal-hal kecil? Introspeksi dan perbaikan diri harus jadi langkah pertama. Keteladanan adalah kunci yang membuat seruan kita punya daya pengaruh, punya jiwa.

Wallahu a’lam.

Penulis adalah mahasiswa Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Universitas PTIQ Jakarta.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar