Di tengah hiruk-pikuk pembangunan fisik Ibu Kota Nusantara, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto justru menyoroti hal yang lebih mendasar. Baginya, IKN bukan cuma soal menara menjulang atau jalanan lebar. Yang tak kalah penting adalah membangun kultur dan etos kerja para Aparatur Sipil Negara (ASN) di Otorita IKN. Mereka harus menjadi contoh, panutan bagi daerah lain.
“IKN ini bukan seolah-olah mendesain, tapi itu tadi etos kerja, culture tadi. Ini harus jadi percontohan semua [ASN yang ada],”
tegas Bima dalam dialog bersama para ASN OIKN, Sabtu lalu.
Pernyataan itu disampaikannya di Auditorium IKN, menekankan pentingnya mendengar langsung keluh kesah dan tantangan yang dihadapi para ASN di lapangan. Ia merasa, pembangunan sebuah ibu kota baru harus seimbang antara fisik dan nilai-nilai. Membentuk birokrasi yang clean, efisien, dan menjadi standar baru tata kelola pemerintahan ke depan itulah misi besarnya.
Bima punya alasan kuat. Pengalaman sepuluh tahun memimpin Kota Bogor memberinya pelajaran berharga. Ia paham betul betapa beratnya beban Jakarta yang harus menanggung beban ganda sebagai pusat pemerintahan sekaligus poros ekonomi nasional. Karena itu, pemindahan ibu kota dinilainya sebagai langkah politik yang tepat.
Namun begitu, fokus utama saat ini adalah memastikan semua pembangunan berjalan sesuai rel kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah. Para ASN yang pertama kali bertugas di IKN memikul peran yang amat strategis. Mereka adalah generasi perintis, fondasi pertama yang akan menentukan wajah pemerintahan baru. Bima bahkan menyematkan gelar khusus pada mereka: "As-Sabiqun Al-Awwalun".
Istilah itu merujuk pada kelompok awal yang bertugas membentuk nilai, budaya kerja, dan standar pelayanan publik di IKN.
Lebih jauh, Bima menekankan bahwa OIKN harus menjadi contoh nyata penerapan tata kelola pemerintahan modern. Digitalisasi pelayanan, sistem e-government, dan konsep smart city memang penting. Tapi semua instrumen canggih itu percuma tanpa karakter, integritas, dan etos kerja yang kuat dari para pelaksananya.
“Yang paling basic adalah not only about kompetensi, tapi karakter,”
tegasnya lagi.
Harapannya jelas: ASN OIKN bisa tampil sebagai role model. Profesionalitas, pelayanan yang prima, integritas tinggi, dan disiplin kerja menjadi kunci. Melalui dialog itu, Bima mendorong mereka untuk memperkuat komitmen membangun tata kelola yang adaptif dan berorientasi pada masyarakat. Kolaborasi dan inovasi adalah kunci utamanya.
Pertemuan itu, pada akhirnya, lebih dari sekadar rapat koordinasi biasa. Ia menjadi momen bagi para ASN OIKN untuk menyadari kembali peran strategis mereka. Sebagai garda terdepan, merekalah yang akan meletakkan standar baru birokrasi di ibu kota negara ini.
Artikel Terkait
PSM Makassar Hadapi Borneo FC di Parepare, Pertarungan Sengit Penuh Sejarah
Harga Emas Perhiasan Relatif Stabil Meski Pasar Global Bergejolak
HNW Apresiasi Aturan Baru, Anak di Bawah 18 Tahun Bisa Berangkat Haji
BMKG Prediksi Cuaca Makassar Cerah Berawan, Suhu Capai 35 Derajat Celsius