Pertemuan Demokrat dan PKS: AHY Kenang 'Tim 8' dan Sampaikan Pantun
Suasana hangat terasa di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta Pusat, Selasa (25/11) siang tadi. Para petinggi Partai Demokrat dan PKS duduk berdampingan dalam acara silaturahmi yang penuh keakraban. Di tengah pertemuan itu, Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY, tiba-tiba mengenang sebuah momen yang langsung memancing tawa hadirin.
"Bapak-Ibu sekalian masih ingat ini? Masih ingat tim 8?" ujar AHY sambil mungkin menunjuk ke sebuah foto atau sekadar mengingatkan semua orang. "Kok pas, ya, 8 angkanya, ya?"
Kalimat candanya itu disambut gelak tawa riuh dari jajaran kedua partai. Ruangan yang semula penuh dengan nuansa formal pun langsung cair.
Bagi yang mengikuti dinamika politik pilpres lalu, istilah "Tim 8" tentu bukan hal asing. AHY sendiri menyebutnya bukan sekadar kenangan, melainkan sebuah sejarah. "Ini adalah kenangan tapi juga sejarah, betul?" katanya. "Sejarah yang indah karena selalu ada hikmah dari itu semuanya."
Rupanya, kenangan itu menginspirasinya untuk membuat pantun. Dengan sedikit senyum, dia pun membacakannya di hadapan semua tamu.
"Jangan lupa cakepnya," seloroh AHY sebelum membacakan pantunnya.
"Dulu kita bersatu di perubahan;
apa kata pisah di tengah jalan.
Yang penting jaga silaturahmi dan persahabatan;
karena untuk Indonesia kita satu harapan dan tujuan."
Di sisi lain, AHY tak lupa menyampaikan rasa syukurnya. Bagaimanapun, setelah melalui lika-liku yang cukup berliku, kedua partai kini kembali bersatu dalam satu pemerintahan yang sama. "Jadi, tentunya kita bersyukur kini kita bersatu kembali bersinergi berkolaborasi dalam pemerintahan," tuturnya.
Menurutnya, tidak ada tujuan lain selain ingin terus berkontribusi untuk masyarakat, bangsa, dan negara yang dicintai bersama.
Mengenal Kembali 'Tim 8'
Lalu, apa sebenarnya Tim 8 itu? Bagi yang sudah agak lupa, tim ini dulu dibentuk oleh Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP). Tugasnya cukup vital: mendukung pemenangan Anies Baswedan sebagai bakal capres di Pilpres 2024.
Tim ini beranggotakan delapan orang, yang merupakan perwakilan dari masing-masing partai di KPP. Dari NasDem, ada Ketua DPP Willy Aditya dan anggota DPR Sugeng Suparwoto. Partai Demokrat mengirim Sekjen Teuku Riefky Harsya dan politisi Iftitah Sulaiman Suryanegara. Sementara PKS diwakili oleh Wakil Ketua Majelis Syuro Sohibul Iman dan Ketua DPP PKS bidang hukum Al-Muzammil Yusuf.
Tak ketinggalan, Anies Baswedan yang saat itu tidak tergabung dengan partai manapun juga menempatkan dua orang kepercayaannya di tim ini, yaitu mantan Menteri ESDM Sudirman Said dan Dadang Dirgantara.
Namun begitu, jalan tak selalu mulus. Awalnya, Anies sempat digadang-gadang akan menggandeng AHY sebagai calon wakil presidennya. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, rencana itu kandas. Demokrat pun akhirnya memutuskan untuk tidak mendukung Anies. Alih-alih, partai berlambang mercy ini kemudian berlabuh dan mendukung pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, yang akhirnya memenangkan kontestasi.
Itulah sekelumit sejarah yang coba diingat kembali oleh AHY dalam pertemuan hari ini. Sebuah kenangan yang sarat makna, penuh liku, namun diakhiri dengan pantun dan harapan untuk kolaborasi di masa depan.
Artikel Terkait
Puluhan Dapur Makan Bergizi Gratis di Jombang Berhenti Beroperasi Akibat Dana Operasional dari BGN Mandek
Timnas Indonesia Tutup FIFA Matchday Juni 2026 dengan Kemenangan Sempurna, Taklukkan Mozambik 1-0
WNA Singapura Ditemukan Tewas di Apartemen Batam Center, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
Timnas Putri Indonesia Ditahan Imbang Kamboja di Laga Penutup FIFA Matchday