Bhutan Jual 9.000 Bitcoin Negara, Cairkan Rp10 Triliun untuk Pembangunan

- Minggu, 12 April 2026 | 03:30 WIB
Bhutan Jual 9.000 Bitcoin Negara, Cairkan Rp10 Triliun untuk Pembangunan

Negeri di kaki pegunungan Himalaya itu tampaknya sedang mengosongkan lumbung digitalnya. Ya, Bhutan secara drastis mengurangi simpanan bitcoin milik negara. Padahal, catatan di 2024 menunjukkan mereka memegang sekitar 13.000 BTC. Kini, cadangannya tinggal sisa-sisa.

Menurut data dari Arkham Intelligence, dalam kurun kurang dari dua tahun, lebih dari separuh aset kripto kerajaan itu telah raib. Angka terbaru yang terpantau cuma sekitar 3.954 bitcoin. Itu artinya, mereka telah melepas lebih dari 9.000 keping BTC.

Kalau dirupiahkan, penjualan itu nilainya fantastis: sekitar 640 juta dolar AS! Tahun ini saja, transfer yang dilakukan berkisar antara 120 hingga 215 juta dolar.

Lantas, bagaimana caranya agar penjualan sebesar itu tidak membuat pasar kripto jungkir balik? Rupanya, strateginya dijaga agar tidak membanjiri pasar sekaligus. Semua dilakukan bertahap.

“Penjualan dilakukan secara perlahan untuk menghindari tekanan besar pada pasar,” demikian penjelasan yang beredar.

Semua transaksi itu dijalankan oleh Druk Holding & Investments, lembaga investasi milik negara. Mereka tak main asal jual. Ada skema yang cermat: transaksi bertahap, memakai mitra institusional ternama, dan mendistribusikan aset lewat berbagai dompet serta bursa. Beberapa nama besar seperti Galaxy Digital dan OKX disebut-sebut terlibat dalam jaringan ini.

Kalau dilihat ritmenya, aktivitasnya justru makin kencang belakangan. Misalnya di Maret, mereka menjual 1.492 BTC. Lalu di April, ada lagi 319 BTC yang berpindah tangan.

Pertanyaannya, untuk apa semua ini? Tampaknya, Bhutan sedang mengamankan posisi. Setelah menikmati kenaikan harga sebelumnya, mereka kini memilih untuk mengunci keuntungan dan mengurangi eksposur terhadap gejolak dunia kripto yang terkenal tak menentu. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas keuangan nasional.

Uang hasil penjualan itu konon akan diputar untuk membiayai pembangunan dalam negeri. Salah satu proyek ambisius yang disebut adalah Gelephu Mindfulness City.

Di sisi lain, aktivitas penambangan bitcoin di sana juga nyaris berhenti total. Padahal dulu, Bhutan dikenal memanfaatkan energi hidro yang melimpah untuk menambang. Sudah lebih setahun tak ada arus masuk signifikan dari aktivitas mining.

Meski cadangannya menyusut drastis, Bhutan sebenarnya masih termasuk dalam jajaran negara pemegang bitcoin terbesar. Hanya saja, posisinya semakin terpental ke bawah seiring terus berlangsungnya aksi jual ini.

Langkah Bhutan ini menarik untuk dicermati. Negeri yang dulu begitu optimis dengan bitcoin, kini berbalik haluan. Mereka mengambil profit, memitigasi risiko, dan fokus ke ekonomi riil. Ini bisa jadi sinyal bagi pasar kalau fase distribusi oleh pemain besar masih berlangsung meski dilakukan dengan sangat hati-hati agar harga tak anjlok.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar