Selama dua dekade lebih, keluarga di Temanggung hanya menyimpan foto usang dan secarik surat terakhir. Itu saja. Tak ada petunjuk jelas tentang keberadaan Seni, sang anak dan ibu yang memutuskan merantau ke Malaysia pada 2004. Kisahnya begitu pilu, penuh tanda tanya.
Namun begitu, kabar baik akhirnya tiba. Seni, pekerja migran asal Temanggung itu, berhasil ditemukan. Setelah 21 tahun hilang kontak, ternyata dia disekap dan disiksa majikannya di negeri jiran. Gajinya pun tak pernah dibayar.
Surat Terakhir dan Jerih Payah Keluarga
Keluarga tak pernah benar-benar berhenti mencari. Meski upaya itu kerap mentok di tengah jalan. Slamet, Ketua RT di tempat tinggal Seni, masih ingat betul usaha mereka dulu.
Mereka bahkan sudah mencoba segala cara. Termasuk mendatangi orang pintar. Tapi nasib seolah tak berpihak.
Ruwan, Ketua RW 07 yang juga kerabat Seni, punya cerita lain. Setelah Seni hilang tanpa kabar, suaminya memutuskan menikah lagi.
Lambat laun, harapan pun pupus. Keluarga memilih untuk pasrah. "Karena sudah lama. Bingung," katanya singkat.
Saksi Bisu di Halaman Rumah
Di halaman rumah orang tua Seni di Kelurahan Mergowati, ada tumpukan bata yang masih tersusun rapi. Sudah berlumut hijau, tak tersentuh bertahun-tahun. Bata-bata itu ibarat monumen kesedihan saksi bisu impian yang tertunda.
Bata itu sengaja dibeli Seni sesaat sebelum berangkat. Dia punya rencana sederhana: memperbaiki rumahnya yang masih dari papan. "Kemungkinan untuk membangun rumah. Ya punya rumah, tapi rumahnya masih blabak (papan), belum bata. Kepingin (memperbaiki) karena orang rumah tangga pasti kepengin," kenang Ruwan.
Artikel Terkait
Ketika Humor Tak Mau Lagi Hanya Menghibur: Absurditas dan Batas Toleransi Publik
Ketika Koruptor Beragama Islam, Mengapa Agamanya yang Diserang?
Asia Timur dan Pasifik: Lapangan Kerja Tumbuh, Tapi Kualitasnya Tergerus
Trump Tawarkan Uang Tunai ke Setiap Warga Greenland demi Aneksasi