Selama dua dekade lebih, keluarga di Temanggung hanya menyimpan foto usang dan secarik surat terakhir. Itu saja. Tak ada petunjuk jelas tentang keberadaan Seni, sang anak dan ibu yang memutuskan merantau ke Malaysia pada 2004. Kisahnya begitu pilu, penuh tanda tanya.
Namun begitu, kabar baik akhirnya tiba. Seni, pekerja migran asal Temanggung itu, berhasil ditemukan. Setelah 21 tahun hilang kontak, ternyata dia disekap dan disiksa majikannya di negeri jiran. Gajinya pun tak pernah dibayar.
Surat Terakhir dan Jerih Payah Keluarga
Keluarga tak pernah benar-benar berhenti mencari. Meski upaya itu kerap mentok di tengah jalan. Slamet, Ketua RT di tempat tinggal Seni, masih ingat betul usaha mereka dulu.
"Menghubungi yang membawa dulu (ke Malaysia) tapi tidak (membuahkan hasil)," ujarnya pada suatu Minggu di akhir November.
Mereka bahkan sudah mencoba segala cara. Termasuk mendatangi orang pintar. Tapi nasib seolah tak berpihak.
"Ikhtiar ke dukun itu ya tidak (bisa). Tidak ada kabar apa-apa," tambah Slamet.
Ruwan, Ketua RW 07 yang juga kerabat Seni, punya cerita lain. Setelah Seni hilang tanpa kabar, suaminya memutuskan menikah lagi.
"Lalu suaminya pulang ke rumah orang tuanya. Kira-kira dari berangkatnya Seni sampai tiga tahunan. Seni tidak bisa dikabari, caranya orang hampa. Terus jadi nganten lagi (menikah lagi)," beber Ruwan.
Lambat laun, harapan pun pupus. Keluarga memilih untuk pasrah. "Karena sudah lama. Bingung," katanya singkat.
Saksi Bisu di Halaman Rumah
Di halaman rumah orang tua Seni di Kelurahan Mergowati, ada tumpukan bata yang masih tersusun rapi. Sudah berlumut hijau, tak tersentuh bertahun-tahun. Bata-bata itu ibarat monumen kesedihan saksi bisu impian yang tertunda.
Bata itu sengaja dibeli Seni sesaat sebelum berangkat. Dia punya rencana sederhana: memperbaiki rumahnya yang masih dari papan. "Kemungkinan untuk membangun rumah. Ya punya rumah, tapi rumahnya masih blabak (papan), belum bata. Kepingin (memperbaiki) karena orang rumah tangga pasti kepengin," kenang Ruwan.
Di kampungnya, tak banyak yang memilih merantau ke luar negeri. Tapi bagi yang berani, mimpi mereka sama: membangun rumah dan mengubah nasib.
Penantian Panjang Terjawab
Kabar itu datang tiba-tiba di Oktober 2025. Polisi mendatangi rumah Ismi, kakak Seni. Kebetulan Ismi sedang tidak di kota, jadi Slametlah yang menerima kabar gembira sekaligus menyedihkan itu: Seni masih hidup.
Keluarga punya harapan besar sekarang: Seni bisa segera pulang dan bertemu Riki Alfian, anaknya yang ditinggalkan saat masih balita 3,5 tahun. Kini Riki sudah berkeluarga dan punya anak.
Momen haru terjadi saat Riki akhirnya bisa melakukan video call dengan ibunya. Ismi, sang bibi, tak kuasa menahan air mata.
"Anak saya telepon ke sana minta sama kantor (sana) bisa. Terus hari ini jam segini, terus bisa ketemuan (melalui video call)," kata Ismi.
Riki yang sejak kecil dirawat Ismi seperti anak sendiri, akhirnya mendengar suara ibunya setelah dua dekade lebih.
"Lalu tanya 'sampean sehat'. Sehat. Saya nangis. 'ora nangis wae kang' aja nangis terus," kenang Ismi dengan suara bergetar.
Di layar, Seni juga pertama kalinya berjumpa dengan cucu dan menantunya. Dia melewatkan begitu banyak momen penting. Bahkan Riki pun awalnya tak mengenali sosok di layar.
"Sama Rikinya juga nggak tahu ibunya itu," kata Walmi, kakak ipar Seni.
Slamet yang melihat video Seni mengatakan ada beberapa perubahan pada fisiknya. Rambutnya yang dulu panjang kini pendek. Ada juga luka sumbing di bibir yang sebelumnya tak ada. "Saya dilihati videone Mbak Seni itu. Memang itu Mbak Seni. Tapi dulu itu rambutnya panjang terus sini (bibir) tidak ciri suwing (sumbing)," jelasnya.
Kini, setelah penantian panjang, keluarga hanya berdoa satu hal: Seni segera bisa kembali ke Temanggung dan merangkul kembali orang-orang yang dicintainya.
Artikel Terkait
Ibu Laporkan Perawat RSHS Bandung atas Dugaan Percobaan Penculikan Bayi
Kejati Sulsel Periksa Mantan Pimpinan DPRD Terkait Korupsi Bibit Nanas Rp60 Miliar
Pria di Bandung Barat Tewas Ditikam Teman Sekontrakan Usai Dituduh Mencuri
Nelayan Temukan Sabu Lebih dari Satu Kilogram di Pantai Pangkep