"Ini berarti tata kelola yang etis dan, yang lebih penting, akses yang setara, sehingga para inovator di mana pun dapat mengakses kumpulan data, sistem pelatihan, dan platform global," paparnya.
Di sisi lain, Gibran tak lupa menyoroti fondasi fisik yang jadi tulang punggung perkembangan AI. Mulai dari pusat data yang besar, chip berteknologi tinggi, hingga mineral-mineral penting yang jadi bahan bakunya. Permintaan global terhadap komponen-komponen ini melonjak pesat.
Tapi sayangnya, negara berkembang sering kali cuma jadi pengekspor bahan mentah. Nilai tambahnya justru dinikmati oleh pihak lain. Situasi ini, menurutnya, tidak boleh terulang.
"Dari pusat data hingga chip canggih, AI bergantung pada mineral penting, dan permintaan global akan input ini berkembang pesat. Namun, terlalu lama negara-negara berkembang mengekspor bahan mentah ketika nilai sebenarnya diambil dari tempat lain," imbuhnya.
Itulah sebabnya Indonesia memilih strategi yang berbeda. Fokusnya adalah membangun industri dalam negeri dan mendorong investasi di sektor hilir. Tujuannya jelas: memastikan rakyat Indonesia bisa menikmati manfaat dari kekayaan alamnya sendiri.
"Kita tidak boleh mengulanginya. Inilah mengapa Indonesia memilih jalan yang berbeda. Kita membangun industri di dalam negeri dan berinvestasi dalam transformasi hilir, serta memastikan rakyat kita mendapatkan manfaat dari kekayaan alam mereka sendiri," tutup Gibran.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp45.000 per Gram, Harga Buyback Justru Naik
BMKG Waspadakan Potensi Hujan dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Sulsel
Presiden Prabowo Tiba di Abu Dhabi, Akan Temui Presiden UEA untuk Perkuat Kemitraan Strategis
FIFA Yakin Piala Dunia 2026 Aman Meski Gelombang Kekerasan Guncang Meksiko