Di Atas Got, di Antara Nisan: Kisah Imah dan Warga yang Numpang Hidup di TPU Kemiri

- Minggu, 23 November 2025 | 18:12 WIB
Di Atas Got, di Antara Nisan: Kisah Imah dan Warga yang Numpang Hidup di TPU Kemiri

Deretan bilik-bilik di sisi kiri TPU Kemiri, Jakarta Timur, membentuk semacam lorong yang teduh dan seolah tak berujung. Di bawahnya, air got mengalir perlahan. Suasananya sunyi, tapi justru di sanalah Imah, 66 tahun, menjalani kesehariannya sejak 2006, pindah dari lapak lamanya di Pasar Sore.

Setelah suaminya yang dulu bekerja sebagai perawat makam meninggal, Imah tetap bertahan di hunian kecil itu. Kini, anaknyalah yang meneruskan pekerjaan merawat nisan-nisan itu.

“Kita mah numpang. Numpang cari makan seperak dua perak,” ujarnya dengan suara lirih.

Menurut Imah, tak sembarang orang bisa tinggal di deretan sekitar 20 rumah sempit itu. “Enggak bisa asal datang. Ibu di sini kan pekerja, makanya boleh di sini. Yang tinggal sini ya perawat-perawat makam. Karena kerja di sini,” tuturnya.

Rumah-rumah itu tak punya sertifikat atau bukti kepemilikan. Status hukumnya mengambang. Satu-satunya yang mereka pegang cuma izin tinggal dari kepala TPU. Imah sendiri pasrah jika suatu hari pemerintah meminta mereka pergi. “Kalau pemerintah pakai, kita enggak bisa apa-apa,” katanya.

Di tempat itu, listrik dan air mereka pasang sendiri. Fogging dari RT datang seminggu sekali. Tapi tetap saja, bau got dan nyamuk jadi masalah yang tak pernah selesai. “Namanya tinggal di atas got, udah pasti. Kita juga udah biasa,” ucap Imah, menerima keadaan.

Untuk bertahan hidup, ia mengandalkan warung kecilnya. Omzet tertinggi cuma sekitar Rp 150.000 per hari itupun belum tentu setiap hari. Sementara anaknya merawat lima sampai sepuluh makam dengan upah Rp 25.000–Rp 50.000 per nisan per bulan. “Tapi kan merawat itu bisa 5, 10 makam,” imbuhnya.

Sudah puluhan tahun menetap, bantuan sosial tak pernah sampai ke tangannya. “Saya mah enggak dapet PKH, enggak dapet kartu lansia, enggak dapet apa-apa. Udah didata juga, enggak dapet,” keluhnya. Hanya anak-anak di sana yang masih dapat bantuan KJP dari sekolah, termasuk cucunya.

Hidup di pemakaman kerap dibayangi komentar miring dari luar. Tapi bagi Imah, ini bukan soal nyaman atau enak. Ini soal bertahan. “Ya kalau punya rumah di kompleks, ya mendingan di kompleks. Tapi karena ekonomi sulit, ya mau gimana lagi. Terima di sini,” ujarnya lirih.

Meski begitu, ia punya satu permintaan sederhana jika nanti pemerintah ingin membuka lahan makam baru: sediakan tempat tinggal pengganti.

“Asal ditempatin. Udah ada tinggal nempat,” katanya pelan. “Kalau bisa yang bisa buat usaha. Walaupun cuma begini, kita bisa cari makan,” tambahnya dengan harap.

Wacana Lahan Baru dan Nasib Warga

Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta ternyata sedang mempersiapkan pembukaan lahan makam baru di beberapa titik. Langkah ini diambil sebagai jawaban atas krisis lahan pemakaman yang kian mendesak di Ibu Kota.

Berdasarkan data Distamhut DKI, total lahan baru yang akan dibuka mencapai sekitar 119 ribu petak makam. Lokasi terbesarnya ada di Jakarta Barat.

Kepala Distamhut DKI, MURIANETWORK.COM Sauri, membeberkan rencana itu. Lahan baru akan dibuka di tiga wilayah: Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat.

“Lahan baru yang akan dibuka adalah di Jakarta Timur, TPU Kober Jatinegara kurang lebih 450 petak makam, TPU Cipinang Besar kurang lebih 1.500 petak makam,” jelas Fajar.

“Jakarta Selatan, TPU Menteng Pulo 2 kurang lebih 1.300 petak makam, TPU Menteng Pulo 3 kurang lebih 845 petak makam. Jakarta Barat ada lahan di Pegadungan kurang lebih 115 ribu petak makam,” lanjutnya.

Menyangkut warga yang tinggal di lokasi TPU seperti di Kober, MURIANETWORK.COM menyebut akan disiapkan fasilitas relokasi bagi yang terdampak. Sosialisasi terkait hal ini, katanya, sudah dilakukan oleh wali kota setempat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar