Kematian Mendadak: Ancaman Senyap yang Mengintai di Balik Tubuh Sehat

- Rabu, 19 November 2025 | 13:50 WIB
Kematian Mendadak: Ancaman Senyap yang Mengintai di Balik Tubuh Sehat
Ancaman Kematian Mendadak: Waspada dan Deteksi Dini Jadi Kunci

Kematian Mendadak: Ancaman Tersembunyi yang Semakin Mengkhawatirkan

Jakarta - Dunia kardiologi Indonesia kembali diingatkan akan bahaya kematian mendadak (sudden cardiac death) yang semakin sering terjadi. Fenomena ini, yang dulu dianggap langka, kini menjadi perhatian serius para ahli jantung.

"Mati mendadak merupakan red flag yang harus diwaspadai. Banyak kasus terjadi pada orang yang satu jam sebelumnya terlihat sehat-sehat saja, lalu tiba-tiba collapse," tegas Dr. dr. M. Yamin, Sp.JP(K), Konsultan Senior Elektrofisiologi dan Terapi Alat, dalam BraveHeart Cardiac Forum Jakarta 2025.

Penyebab Tersering dan Kondisi yang Tak Terduga

Menurut paparan dr. Yamin, penyakit jantung koroner menjadi penyebab utama kematian mendadak. Kondisi ini dapat memicu serangan jantung hanya dalam hitungan menit, bahkan tanpa gejala peringatan sebelumnya.

"Serangan bisa terjadi kapan saja, bahkan tanpa gejala sebelumnya," tegasnya.

Selain itu, gangguan kelistrikan jantung seperti Brugada Syndrome dan Long QT Syndrome juga menjadi ancaman serius. Kondisi ini sering kali tidak terdeteksi karena pasien tampak sehat secara fisik.

"Ini penyakit yang diam-diam. Banyak anak muda datang tanpa keluhan, tapi irama listrik jantungnya berbahaya. Kalau tidak diperiksa, kita tidak tahu," jelas dr. Yamin.

Faktor Genetik dan Pendekatan Multidisiplin

Faktor genetik memegang peranan penting dalam banyak kasus kematian mendadak. dr. Yamin menekankan, riwayat keluarga yang meninggal mendadak harus menjadi peringatan untuk melakukan pemeriksaan dini.

"Brugada itu banyak dipengaruhi genetik. Jadi kalau ada keluarga yang meninggal mendadak, kita wajib curiga. Pemeriksaan dini bisa menyelamatkan nyawa," tegasnya.

Pendekatan multidisiplin juga menjadi kunci penting dalam penanganan masalah jantung. Kolaborasi antara kardiolog, ahli bedah, dan spesialis lainnya dinilai crucial untuk penanganan yang komprehensif.

Strategi Pencegahan dan Teknologi Mutakhir

dr. Yamin memaparkan dua strategi utama pencegahan kematian mendadak:

1. Pencegahan Sekunder (Secondary Prevention)

Ditujukan bagi pasien yang sebelumnya pernah mengalami collapse. Pada tahap ini, teknologi Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) menjadi sangat krusial.

2. Pencegahan Primer (Primary Prevention)

Ditujukan bagi individu dengan risiko tinggi yang belum pernah kolaps, seperti memiliki riwayat pingsan berulang, kelainan irama jantung, atau keluarga dengan kematian mendadak.

Teknologi terbaru seperti Subcutaneous ICD yang dipasang di bawah kulit tanpa kabel masuk ke jantung, dinilai lebih aman untuk pasien muda.

Deteksi Dini dan Perubahan Gaya Hidup

Pemeriksaan seperti echocardiography, tes provokasi elektrofisiologi, dan penggunaan Holter monitor yang semakin modern menjadi alat penting deteksi dini.

"Holter sekarang sudah patient-friendly. Bisa dipakai berenang, mandi, bahkan sampai berhari-hari untuk mendeteksi irama jantung yang tidak muncul setiap saat," paparnya.

Perubahan gaya hidup juga menjadi faktor penentu:

  • Menghindari rokok dan alkohol
  • Mengontrol stres
  • Optimalkan pengobatan
  • Rutin memeriksa riwayat keluarga

Disarikan dari presentasi Dr. dr. M. Yamin, Sp.JP(K) pada BraveHeart Cardiac Forum Jakarta 2025 - Layanan Jantung Brawijaya Hospital Group.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar