Johannesburg pagi itu, Sabtu (22/11), terasa begitu tenang. Matahari pagi menyinari kawasan KTT G20 dengan lembut, menciptakan suasana yang nyaris sempurna. Udara hangat berhembus pelan, seolah menjanjikan hari yang lancar bagi acara penting tersebut.
Tapi semua itu berubah begitu cepat. Menjelang siang, awan-awan kelabu mulai berkumpul, menutupi langit yang tadi cerah. Angin yang tadinya ramah tiba-tiba berubah jadi kencang, menerpa tenda-tenda dan menggoyangkan peralatan liputan yang sudah disiapkan.
Lalu, tepat di sore hari, langit yang semula hanya kelabu berubah jadi gelap gulita. Seperti ada tirai hitam yang menutupi seluruh kota.
Awalnya hanya rintikan hujan kecil. Seperti ketukan lembut di atas atap. Tapi kemudian intensitasnya meningkat drastis, dan yang turun bukan lagi air, melainkan butiran-butiran es. Mereka memantul di aspal, berdentang-dentang di atas kanopi venue.
Beberapa kru media yang sedang meliput di luar langsung sigap. Tanpa banyak bicara, mereka bergegas mengemasi peralatan dan berlarian mencari perlindungan di dalam gedung. Tapi tidak dengan beberapa fotografer.
Mereka justru bertahan, mengarahkan lensa kamera ke langit, berusaha mengabadikan momen langka ini. Butiran es yang jatuh seperti menjadi objek yang terlalu sayang untuk dilewatkan.
Suaranya? Seperti ribuan jarum kecil menghantam permukaan kota secara serentak. Denting-denting es itu menciptakan simfoni yang tidak terduga.
Di layar ponsel, suhu masih menunjukkan 24 derajat Celsius. Secara angka mungkin tidak terlalu dingin, tapi kombinasi angin dan hujan es membuat udara terasa menusuk tulang. Sementara itu, dari luar, suara hujan dan es yang mengguyur tak juga berhenti.
Pada akhirnya, media yang bertahan pun menyerah. Mereka membawa tas kamera, melipat tripod dengan tergesa, dan berhamburan masuk ke dalam gedung. Aroma khas tanah basah dan hawa dingin ikut serta, seolah membawa serta cerita tentang amukan alam yang baru saja terjadi.
Lalu, di puncak keriuhan itu, petir menyambar. Suaranya menggelegar, membelah langit Johannesburg. Getarannya terasa sampai ke dalam ruangan, membuat kamera yang masih menyala bergetar sendiri.
Jadi, begitulah sore itu. Di tengah agenda KTT G20 yang penuh dengan pembicaraan tingkat tinggi, alam memutuskan untuk ikut berbicara. Dengan caranya sendiri. Dan semua orang, mau tidak mau, harus mendengarkan.
Artikel Terkait
Gelombang Pertama 322 Petugas Haji Indonesia Berangkat ke Madinah
BMKG Prediksi Cuaca Cerah Berawan di Sulsel Sepanjang Hari Ini
Chelsea Tumbang di Kandang Meski Dominan, Manchester United Curi Poin Penuh
PDIP Nilai Keanggotaan Indonesia di Board of Peace Trump Tak Lagi Relevan