Trump dan Mamdani: Dari Caci Malu ke Jabat Tangan di Oval Office

- Sabtu, 22 November 2025 | 05:06 WIB
Trump dan Mamdani: Dari Caci Malu ke Jabat Tangan di Oval Office
Pertemuan Tak Terduga di Gedung Putih

Pertemuan tertutup antara Presiden AS Donald Trump dan Wali Kota terpilih New York, Zohran Mamdani, digelar di Gedung Putih pada Jumat (21/11) waktu setempat. Sebuah pertemuan yang cukup mengejutkan, mengingat riwayat perseteruan mereka yang kerap menjadi sorotan.

Memang, dalam banyak hal, keduanya sering berselisih paham. Semasa Pilwalkot New York berlangsung, Trump tak segan menyerang Mamdani. Ia bahkan menyebut politisi keturunan Asia Selatan itu sebagai komunis. Tak cuma kata-kata, ancaman pun dilontarkan. Trump mengancam akan memotong dana federal untuk New York City jika Mamdani berhasil memenangkan kontes tersebut.

Mamdani, di sisi lain, tak tinggal diam. Saat menyampaikan pidato kemenangannya, dengan nada percaya diri ia menyatakan bahwa New York City tahu cara mengalahkan Trump.

Namun begitu, dinamika politik kadang memang penuh kejutan. Di balik segala perbedaan dan caci malu itu, dalam pertemuan di Gedung Putih, Trump justru memuji kemenangan Mamdani.

Menurut laporan Reuters, inisiatif pertemuan ini datang dari Mamdani. Ia ingin membahas isu-isu yang sedang menghantui warganya, terutama soal biaya hidup yang kian mencekik dan keamanan publik. Percakapan mereka berlangsung di Ruang Oval, ruangan yang sarat dengan simbol kekuasaan.

"Kami sepakat lebih dari yang saya kira," kata Trump kepada para wartawan yang telah menunggu di luar.

Dengan nada yang lebih kalem, ia menambahkan, "Kami memiliki satu kesamaan: kami ingin kota yang kami cintai ini berkembang dengan sangat baik."

Trump bahkan memberikan ucapan selamat secara langsung kepada Mamdani atas kemenangannya di Pilwalkot awal bulan ini. "Dia benar-benar bertarung dengan luar biasa melawan beberapa orang yang sangat tangguh, orang-orang yang sangat cerdas," pujinya.

Dari kubu Mamdani, tanggapannya tak kalah positif. Ia menilai pertemuan itu sangat produktif.

"Pertemuan itu produktif dan berfokus pada tempat yang sama-sama dikagumi dan dicintai, yaitu Kota New York, dan pentingnya menyediakan akses yang terjangkau bagi warga New York," jelas Mamdani.

Sehari sebelum berangkat ke Washington, dalam sebuah konferensi pers, Mamdani mengakui bahwa ia dan presiden memiliki banyak perbedaan pendapat. Tapi pertemuan ini justru digunakannya untuk menjelaskan sikap dan niatnya dalam memimpin New York.

Di luar Balai Kota New York, ia berpesan kepada wartawan, "Saya bermaksud menjelaskan kepada Presiden Trump bahwa saya akan bekerja sama dengannya dalam agenda apa pun yang menguntungkan warga New York."

Namun, dengan tegas ia menegaskan batasannya. "Jika suatu agenda merugikan warga New York, saya juga akan menjadi orang pertama yang mengatakannya." Sebuah penutup yang jelas, menunjukkan bahwa di balik jabat tangan, prinsip tetap dijaga.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar