Jenderal Dukun, Penasihat Spiritual Soeharto yang Jarang Dikenal
Era Soeharto memang meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan. Di balik catatan kelam yang melekat, tak bisa dipungkiri Indonesia pernah mencapai puncak kejayaan di bawah "Sang Jenderal yang Selalu Tersenyum" itu. Tapi tahukah Anda, di balik kesuksesan itu ada sosok-sosok penting yang jarang terpapar publik?
Salah satunya adalah Mayor Jenderal Soedjono Hoemardani. Namanya mungkin kalah tenar dibanding Harmoko atau Try Sutrisno. Tapi pengaruhnya justru sangat besar. Konon, hanya dia dan Ibu Tien yang punya akses bebas ke kamar pribadi Soeharto.
Yang menarik, Soedjono juga dikenal sebagai dukun andal dan penasihat spiritual presiden. Pengaruhnya begitu kuat sampai-sampai jurnalis asing menjulukinya "Rasputin Indonesia".
Dari Pedagang ke Militer
Sejak muda, Soedjono sudah akrab dengan dunia ekonomi. Setelah lulus HIS Surakarta, dia melanjutkan ke Gemeentelijke Handels School di Semarang – sekolah dagang ternama masa itu. Kembali ke Solo, dia meneruskan usaha ayahnya yang memasok bahan makanan dan pakaian untuk keraton.
Di zaman Jepang, karir militernya mulai bersemi. Di usia muda, dia sudah menjadi fukudanco (wakil komandan) keibodan. Saat revolusi bergulir, Soedjono bergabung dengan BKR – cikal bakal TNI – dengan tugas mengurusi ekonomi dan keuangan.
Karena termasuk sedikit orang Indonesia yang melek huruf saat itu (hanya 10 persen!), karir militernya langsung dimulai dari pangkat Letnan Dua.
Jiwa Wiraswasta di Tubuh Militer
Meski berkecimpung di dunia militer, Soedjono tak pernah jadi perwira tempur. Dia punya filosofi sendiri: tentara tak cuma urus pertempuran, tapi juga logistik dan administrasi.
Harry Tjan Silalahi dalam bukunya menggambarkan, "Sekalipun dia memantapkan diri di lingkungan militer, jiwa kewiraswastaannya tak hilang. Malah memperluas sudut pandang profesinya."
Pertemuannya dengan Soeharto terjadi saat yang terakhir menjadi Panglima Divisi Diponegoro. Soedjono waktu itu jadi perwira administrasi di KODAM setempat. Di luar dinas, dia menjalankan berbagai bisnis, termasuk usaha perkapalan bersama Bob Hasan.
Pada 1969, dia diangkat sebagai Asisten Pribadi Presiden Urusan Ekonomi dan Perdagangan. Posisinya strategis – semua pengusaha yang mau kerja sama dengan Jepang harus dapat rekomendasi darinya. Orang Jepang sendiri menganggapnya "utusan langsung presiden".
Pertemuan dengan Liem Soe Liong
Bersama Suryohadiputro dan Alamsyah Ratuprawiranegara, Soedjono termasuk jenderal yang kerap didatangi pengusaha. Mereka dijuluki "Jenderal Finansial".
Perannya cukup krusial dalam memperkenalkan Liem Soe Liong kepada Soeharto. Pertemuan itu kemudian membuka jalan bagi persahabatan erat antara presiden dan konglomerat legendaris tersebut.
Gaya Eksentrik Sang Jenderal
Penampilannya tak biasa. Rambut gondrongnya lebih mirip musisi rock daripada perwira militer. Tampangnya jauh dari kesan klimis – justru berbanding terbalik dengan citra tentara pada umumnya.
Gaya hidupnya pun tak kalah unik. Dia kerap menerima tamu dengan kaki telanjang di ruangan remang-remang diterangi lilin. Seorang jurnalis asing pernah melaporkan, "Dia menerima duta besar Barat di ruangan gelap dengan benda-benda keramat berseliweran, mengenakan kostum Jawa dan bertelanjang kaki."
Tak heran kalau dia dijuluki "Menteri Urusan Mistis".
Hubungan Spiritual dengan Soeharto
Kedekatan Soedjono dengan Soeharto ternyata berawal dari dunia spiritual. Mereka sama-sama murid Romo Diyat (Soediyat Prawirokoesomo). Sang guru pernah berpesan kepada Soedjono untuk menjaga Soeharto karena kelak akan menjadi orang besar.
Tapi Soeharto sendiri membantah kalau Soedjono adalah gurunya. Dalam buku "Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya", dia berkata, "Djono dulu sering sungkem ke saya. Dia anggap saya senior yang lebih banyak tahu soal mistis."
Soeharto mengaku tak serta merta menerima nasihat spiritual Soedjono. "Saya menganalisis dulu, apakah masuk akal atau tidak. Kalau tidak, ya tak saya ikuti."
Di Balik Layar CSIS
Jangan salah, di balik image-nya yang eksentrik, Soedjono punya otak strategis yang cemerlang. Bersama Ali Moertopo, dia termasuk pencetus berdirinya Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Tugasnya? Ya, mencari dana untuk menghidupi lembaga think tank itu.
Soedjono wafat pada 12 Maret 1986. Pemakamannya disiarkan langsung TVRI dengan upacara militer lengkap. Soeharto dan Ibu Tien hadir memberikan penghormatan terakhir.
Menariknya, meski dekat dengan pusat kekuasaan, tak satu pun keluarganya yang masuk pemerintahan. Adik-adiknya, Sardjono dan Soedijono, lebih memilih jalur politik dan seni. Satu-satunya yang terjun ke politik adalah menantunya, Fauzi Bowo, mantan Gubernur Jakarta.
Sejarah memang tak selalu mencatat nama-nama di balik layar. Tapi pengaruh Soedjono Hoemardani dalam pemerintahan Soeharto – khususnya di ranah yang tak kasat mata – tak bisa dipandang sebelah mata.
Artikel Terkait
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Aceh dan Sumut
Kematian Bos Kartel El Mencho Picu Gelombang Kekerasan di Meksiko
LPDP Perketat Pengawasan, 600 Penerima Beasiswa Diselidiki atas Dugaan Pelanggaran
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026