Ironi Optimisme: Generasi Muda Indonesia Paling Pesimis Meski Skor Kebahagiaan Nasional Tinggi

- Rabu, 19 November 2025 | 08:06 WIB
Ironi Optimisme: Generasi Muda Indonesia Paling Pesimis Meski Skor Kebahagiaan Nasional Tinggi
Laporan Kesehatan Emosional dan Optimisme Pemuda Indonesia

Hampir empat dari sepuluh orang dewasa di seluruh dunia dilaporkan mengalami kekhawatiran signifikan dan stres berat setiap harinya. Temuan ini merupakan hasil survei kesehatan emosional global yang digelar Gallup di 144 negara pada Oktober 2025, yang mengungkapkan peningkatan emosi negatif dibandingkan satu dekade silam, dengan implikasi serius bagi kesehatan dan perdamaian.

Dalam peta global tersebut, Indonesia menunjukkan performa yang cukup menggembirakan. Survei mencatat skor pengalaman positif yang tinggi, di mana 91 persen responden di Tanah Air mengaku dapat merasakan kesenangan dan 86 persen merasa cukup beristirahat.

Namun, di balik data yang positif itu, survea terpisah yang dilakukan Good News from Indonesia GoodStats pada Agustus 2025 justru mengungkap tren pesimisme di kalangan generasi muda. Skor optimisme kelompok usia 17-25 tahun tercatat paling rendah, yakni 5,45, jauh di bawah angka 6,21 yang diraih kelompok usia 46-55 tahun dalam skala 10.

Survei yang digelar pada Juni-Juli 2025 itu menginterpretasikan bahwa generasi muda Indonesia, yang biasanya identik dengan harapan, justru dilanda pesimisme lebih parah dibanding generasi tua. Kondisi ini disebut sebagai buah dari ketidakpastian ekonomi, tingginya angka pemutusan hubungan kerja, melambungnya harga kebutuhan pokok, serta ketidakpuasan terhadap sistem politik.

Alarm Masa Depan

Fenomena ini merupakan alarm bagi masa depan bangsa. Banyak pemuda Indonesia yang kini merasa tidak memiliki ruang dalam masa depan ekonomi negeri sendiri, yang tercermin dari pesimisme yang menguat.

Janji politik memang berlimpah, bahkan diproduksi hampir setiap hari, namun realitas berbicara lain. Lapangan kerja yang terbatas menciptakan kesenjangan tajam antara harapan dan kenyataan. Semakin lebar jurang ini, semakin kuat indikasi kegagalan sistemik tata kelola pemerintahan. Apatisme politik anak muda kemudian bisa menjadi sumber instabilitas sosial dan politik di masa mendatang.

Statistik membuktikan ketidaksesuaian antara janji dan realita. Tingkat Pengangguran Terbuka per Februari 2025 mencapai 4,76 persen, namun untuk penduduk usia 15-24 tahun angkanya melonjak menjadi 16,16 persen. Artinya, dari setiap 100 pemuda, 16 orang menganggur, atau setara dengan 3,6 juta jiwa. Padahal, Indonesia harus menyerap sekitar 10 juta pendatang baru di pasar tenaga kerja setiap tahunnya.

Survei yang dilakukan Vero Advocacy dan Kadence International pada akhir 2024 menguatkan temuan ini. Sebanyak 88 persen Gen Z dan 89 persen milenial Indonesia memandang pekerjaan sebagai masalah paling krusial dalam hidup mereka. Kepuasan terhadap kesempatan kerja hanya 42 persen, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kesempatan kerja terendah di Asia Tenggara.

Keresahan ini merupakan konsekuensi struktural dari ekonomi yang belum berpihak pada pemuda, yang justru seharusnya menjadi penentu arah negara. Padahal, dari perspektif ekonomi, pemuda dengan potensi inovasi dan kemampuan adaptasi teknologinya merupakan kunci produktivitas jangka panjang untuk mengatasi perlambatan ekonomi dan jebakan pendapatan menengah.

Menagih Kejujuran dan Janji

Sebagai kelompok demografi terbesar pemilih baru, para pemuda berpotensi merasa masa depan mereka telah dirampas. Pengalaman di berbagai negara menunjukkan frustrasi ekonomi generasi muda sering menjadi pemicu gejolak sosial dan retaknya demokrasi.

Oleh karena itu, persoalan pengangguran anak muda bukan sekadar angka statistik, melainkan ancaman strategis terhadap keberlanjutan pembangunan.

Pemerintah dituntut untuk jujur atas kemampuan yang ada, demi menjaga kepercayaan para pemuda. Janji penyerapan tenaga kerja pemuda tidak boleh menjadi poster kampanye yang kian pudar. Pemerintah juga perlu menahan diri dari memajang target-target yang secara riil sulit dicapai.

Dimulai dengan Sumpah Pemuda berpuluh tahun lalu, pemuda telah melahirkan generasi yang berani mengubah arah nasib bangsa dengan ongkos yang tidak murah. Kini saatnya negara membayar kembali keberanian itu, bukan dengan retorika, melainkan dengan memulihkan keyakinan akan kepastian masa depan para pemuda. Harapan inilah yang sepatutnya ditanggapi secara serius.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar