Cerita serupa datang dari Malvi, 23, pekerja yang harus pulang ke Tebet, Jakarta Selatan. Baginya, tidur di taman stasiun sudah menjadi rutinitas ketika lembur menghalangi untuk mengejar kereta terakhir.
"Nggak ada pilihan lain sih. Takut masuk angin ya sudah jadi risiko. Di sini nggak ada fasilitas tempat beristirahat," keluhnya.
Pertanyaan tentang mengapa tidak mencari kos di dekat tempat kerja dijawabnya dengan gelengan kepala. "Saya cari kos yang murah, tapi belum nemu. Kerjaan juga daily worker, jadi jam masuknya nggak tentu," jelas Malvi.
Ruang Tunggu yang Terkunci
Menurut pengakuan para penumpang, ruang tunggu stasiun justru ditutup setelah jam operasional berakhir. Petugas meminta mereka menunggu di area terbuka hingga pagi tiba.
Kondisi ini dinilai tidak manusiawi, terutama bagi pekerja shift malam dengan penghasilan pas-pasan. "Pengennya aksesnya lebih mudah. Terus tempat peristirahatan tolong disediakan juga, biar aman, nggak kedinginan," pinta Malvi.
Fenomena "hotel darurat" ini mengungkap realita getir para pekerja kawasan industri yang masih sangat bergantung pada transportasi publik dengan jam operasi terbatas. Di balik gemerlap industri, ada ratusan Teguh dan Malvi yang terpaksa berdamai dengan dinginnya lantai stasiun demi bisa pulang ke rumah.
Artikel Terkait
Bupati Bone Resmikan Kios Tani dan Pangan Maberre di Dinas Peternakan
Delapan Penerima Beasiswa LPDP Dijatuhi Sanksi Gagal Penuhi Kewajiban
Wamenko Polkawil Tinjau Progres 106 Unit Huntap untuk Korban Banjir Aceh Utara
Tiga Eks Petinggi Pertamina Divonis 9-10 Tahun Penjara atas Korupsi Minyak