3. Berhenti Sejenak Sebelum Merespon
Ketika menerima pesan yang memicu emosi, jangan langsung membalas. Tarik napas dalam-dalam dan beri diri waktu untuk tenang. Respons yang dipikirkan matang akan lebih konstruktif daripada reaksi spontan yang penuh emosi.
4. Jadwalkan Quality Time untuk Check-in
Cegah penumpukan masalah dengan membuat ritual check-in mingguan. Sediakan waktu khusus tanpa gangguan untuk saling berbagi perasaan dan kekhawatiran. Rutinitas ini mencegah masalah kecil berkembang menjadi krisis besar.
5. Konsultasi dengan Ahli Jika Diperlukan
Jika fexting terus berlanjut meski sudah berusaha, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional. Konselor pernikahan dapat membantu mengidentifikasi pola komunikasi tidak sehat dan memberikan strategi yang disesuaikan dengan kebutuhan hubungan Anda.
Kembali ke Komunikasi Manusiawi
Menghentikan fexting berarti memilih untuk hadir sepenuhnya dalam hubungan. Komunikasi tatap muka memungkinkan Anda mendengar nada suara, melihat ekspresi mata, dan merasakan kehangatan sentuhan unsur-unsur yang tidak bisa digantikan oleh pesan teks.
Dengan meninggalkan kebiasaan fexting, Anda membuka pintu untuk pemahaman lebih dalam, resolusi konflik yang lebih sehat, dan kedekatan emosional yang lebih autentik. Pernikahan Anda layak mendapatkan upaya untuk komunikasi yang lebih baik dimulai dengan meletakkan ponsel dan benar-benar mendengarkan satu sama lain.
Artikel Terkait
Kementan Tegaskan Komitmen Jaga Peternak dan Pertahankan HET
APPSI Perkuat Peran Stabilisasi Harga Pangan Dukung Program Pemerintah
Dua Pria Bersenjata Celurit Rampok Minimarket di Palangka Raya
Lechumanan Desak Polisi Tahan Roy Suryo, Kubu Jokowi Serahkan ke Jalur Hukum