Korban Bullying SMPN 19 Tangsel Meninggal: Kronologi, Kondisi Terakhir, dan Fakta Lengkap

- Minggu, 16 November 2025 | 10:36 WIB
Korban Bullying SMPN 19 Tangsel Meninggal: Kronologi, Kondisi Terakhir, dan Fakta Lengkap
Korban Bullying SMPN 19 Tangsel Meninggal: Kronologi dan Kondisi Terakhir

Siswa SMPN 19 Tangsel Tewas Akibat Bullying, Seminggu Dirawat Intensif

Seorang siswa SMPN 19 Tangerang Selatan dengan inisial MH (13 tahun) dilaporkan meninggal dunia di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan pada hari Minggu. Korban telah menjalani perawatan intensif selama seminggu penuh akibat luka-luka serius yang diduga kuat berasal dari tindakan perundungan di lingkungan sekolah.

Kabar duka ini telah dikonfirmasi oleh kuasa hukum keluarga korban, Alvian. Ia menyatakan bahwa keluarga menerima informasi langsung dari kerabat yang saat itu sedang mendampingi MH di rumah sakit.

"Sekitar pukul enam pagi, keluarga yang berada di rumah mendapatkan kabar dari paman korban yang bertugas menjaga di rumah sakit," jelas Alvian pada hari Minggu.

Begitu mendapatkan kabar tersebut, seluruh anggota keluarga segera berangkat menuju RS Fatmawati untuk proses menjemput jenazah.

"Saat ini keluarga sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit," tambah Alvian. Melalui pernyataannya, keluarga juga memohon doa dari masyarakat luas agar almarhumah mendapatkan tempat yang layak dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Kondisi Korban Bullying Sebelum Meninggal: Mata Rabun dan Kaki Lumpuh

Berdasarkan informasi yang beredar, MH menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh teman-teman sekelasnya. Dugaan kuat menunjukkan bahwa aksi bullying ini telah berlangsung sejak masa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Insiden puncaknya terjadi pada hari Senin, dimana kepala korban dikabarkan mengalami pemukulan menggunakan sebuah bangku yang terbuat dari besi.

Kakak kandung korban, Rizki, mengungkapkan bahwa setelah kejadian tersebut, kondisi fisik adiknya mengalami penurunan yang sangat drastis. Tubuh siswa yang duduk di Kelas VII ini bahkan tidak dapat digerakkan dengan normal, menunjukkan gejala seperti kelumpuhan.

"Luka yang paling serius adalah akibat pukulan kursi di bagian kepala. Korban baru berani menceritakan semua kejadian setelah kondisinya sudah sangat parah. Selama ini ia tidak pernah bercerita, dan baru berani mengungkapkan karena merasakan sakit yang luar biasa," tutur Rizki pada hari Senin.

Rizki juga menambahkan bahwa adiknya sempat mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit swasta yang berlokasi di Kota Tangerang Selatan. Namun, karena kondisi kesehatannya yang kian memburuk, MH akhirnya dirujuk untuk dirawat lebih lanjut di Rumah Sakit Fatmawati yang berada di Jakarta Selatan.

"Keadaannya sangat memprihatinkan. Tubuhnya sudah tidak bisa diajak berjalan, seluruh badan terasa lemas, penglihatannya menjadi rabun, sering mengalami pingsan, dan kehilangan nafsu makan," pungkas Rizki menggambarkan kondisi terakhir korban sebelum meninggal.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar