Pasar emas dunia diguncang aksi jual besar-besaran pada Jumat lalu. Harga logam mulia itu ambruk, mencatat penurunan harian terdalam dalam lebih dari empat dekade. Bahkan, perak pun tak kalah terpuruk, meluncur hampir 30 persen dalam satu hari.
Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di angka USD5.594,82 per ons sehari sebelumnya, emas spot anjlok. Puncaknya, ia terjun bebas 12,86 persen ke level USD4.679,51. Penutupan perdagangan sedikit memulihkan posisi, tapi tetap saja merosot 8,84 persen ke USD4.895,44 per troy ons. Pekan yang benar-benar berdarah-darah bagi para pemegang logam mulia.
Lalu, apa pemicu semua kekacauan ini? Analis menyoroti pengumuman Presiden AS Donald Trump soal calon Ketua Federal Reserve. Trump menunjuk Kevin Warsh, mantan Gubernur The Fed yang dikenal vokal mengkritik bank sentral, untuk menggantikan Jerome Powell. Penunjukan ini jelas mengirim gelombang ketidakpastian ke pasar.
Namun begitu, tampaknya bukan cuma satu faktor penyebabnya. Menurut Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered Bank, pasar memang sudah terlalu panas dan butuh koreksi.
"Pemicunya kemungkinan kombinasi dari berbagai hal, mulai dari pengumuman The Fed hingga arus makroekonomi yang lebih luas," katanya, seperti dikutip Reuters.
"Baik dilihat dari pergerakan dolar maupun ekspektasi imbal hasil riil, kombinasi faktor-faktor inilah yang memicu aksi ambil untung," tambah Cooper.
Di sisi lain, indeks dolar AS bangkit 0,7 persen dari posisi terendah empat tahunnya. Penguatan greenback ini otomatis membuat emas jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga semakin mendorong tekanan jual.
Meski terkoreksi tajam, catatan bulanan emas masih mengesankan: naik 13,25 persen di Januari. Itu adalah kenaikan bulanan keenam secara beruntun. Tapi dalam sepekan, ia tetap saja merugi 1,85 persen. Sebuah peringatan bahwa tren naik tak selamanya mulus.
Nicky Shiels dari MKS PAMP SA punya pandangan menarik. Ia menyebut Januari 2026 akan tercatat sebagai bulan paling volatil dalam sejarah logam mulia.
Dalam catatannya, ia menyebut level USD4.600 untuk emas, USD80 untuk perak, dan USD2.000 untuk platinum sebagai target penurunan yang masuk akal. "Harga perlu turun terlebih dahulu agar tren kenaikan bisa kembali berlanjut secara lebih moderat," ujarnya.
Kekacauan tak hanya terjadi di emas. Perak spot terpangkas 6,83 persen ke USD84,43 per ons setelah sempat terjun bebas ke USD73,47 di hari yang sama. Berdasarkan data yang ada sejak 1982, ini adalah penurunan harian terburuk yang pernah dialami logam putih itu. Padahal, sehari sebelumnya ia baru saja mencetak rekor di USD121,64.
Nasib serupa menimpa logam mulia lainnya. Platinum merosot 19,18 persen ke USD2.125 per ons. Paladium pun tak berkutik, terperosok 15,7 persen ke posisi USD1.682. Pekan yang menguji nyali, dan mungkin mengubah banyak strategi investasi.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020