Di sisi lain, indeks dolar AS bangkit 0,7 persen dari posisi terendah empat tahunnya. Penguatan greenback ini otomatis membuat emas jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga semakin mendorong tekanan jual.
Meski terkoreksi tajam, catatan bulanan emas masih mengesankan: naik 13,25 persen di Januari. Itu adalah kenaikan bulanan keenam secara beruntun. Tapi dalam sepekan, ia tetap saja merugi 1,85 persen. Sebuah peringatan bahwa tren naik tak selamanya mulus.
Nicky Shiels dari MKS PAMP SA punya pandangan menarik. Ia menyebut Januari 2026 akan tercatat sebagai bulan paling volatil dalam sejarah logam mulia.
Dalam catatannya, ia menyebut level USD4.600 untuk emas, USD80 untuk perak, dan USD2.000 untuk platinum sebagai target penurunan yang masuk akal. "Harga perlu turun terlebih dahulu agar tren kenaikan bisa kembali berlanjut secara lebih moderat," ujarnya.
Kekacauan tak hanya terjadi di emas. Perak spot terpangkas 6,83 persen ke USD84,43 per ons setelah sempat terjun bebas ke USD73,47 di hari yang sama. Berdasarkan data yang ada sejak 1982, ini adalah penurunan harian terburuk yang pernah dialami logam putih itu. Padahal, sehari sebelumnya ia baru saja mencetak rekor di USD121,64.
Nasib serupa menimpa logam mulia lainnya. Platinum merosot 19,18 persen ke USD2.125 per ons. Paladium pun tak berkutik, terperosok 15,7 persen ke posisi USD1.682. Pekan yang menguji nyali, dan mungkin mengubah banyak strategi investasi.
Artikel Terkait
Rupiah Tersenyum Tipis, Tapi Modal Asing Kabur Rp12,5 Triliun
Shutdown AS Kembali Terjadi, Tapi Dampaknya Tak Separah Sebelumnya
Prabowo di Davos: Dari Kestabilan Ekonomi hingga Prabowonomics
Peta Jalan Semikonduktor Indonesia Dicanangkan, Impor Rp 77 Triliun Jadi Pemicu