Laporan terbaru dari Kementerian ESDM menunjukkan capaian yang cukup signifikan. Sepanjang tahun 2025, Program Listrik Desa berhasil dijalankan di lebih dari 1.500 lokasi. Jumlah pelanggan yang kini menikmati aliran listrik mencapai 77.616 rumah tangga. Ini bukan sekadar angka statistik belaka, melainkan langkah nyata untuk mengejar target rasio elektrifikasi nasional dan, yang tak kalah penting, mempersempit jurang pembangunan antar daerah.
Di sisi lain, upaya ini mendapat perhatian serius dari pucuk pimpinan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerataan akses listrik merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Targetnya jelas: hingga periode 2029-2030, seluruh desa dan dusun yang tersisa berjumlah ribuan harus sudah teraliri listrik.
"Kehadiran listrik itu sebagai bentuk keadilan sosial," tegas Bahlil dalam konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM, Kamis lalu.
Menurutnya, listrik lebih dari sekadar tiang dan kabel. Itu adalah wujud keadilan yang diberikan negara kepada rakyatnya.
Namun begitu, tantangannya tidak hanya sampai di situ. Jaringan listrik yang sudah tersedia pun kadang belum bisa dinikmati oleh sebagian masyarakat. Penyebabnya klasik: biaya. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah juga menjalankan program Bantuan Pemasangan Baru Listrik (BPBL). Program ini menyasar rumah tangga berpenghasilan rendah yang terkendala biaya pemasangan awal, yang rata-rata mencapai Rp 2 hingga 2,5 juta.
Artikel Terkait
Dubes Iran Akui Kondisi Selat Hormuz Mirip Masa Perang, Kapal Pertamina Masih Tertahan
Stasiun JIS Ditargetkan Beroperasi Juni 2026, Dukung Lonjakan Pengguna KRL
Gapensi Proyeksikan Kenaikan Biaya Konstruksi hingga 8% Akibat Lonjakan Harga Energi
Prancis Resmi Tarik Seluruh Cadangan Emas dari New York ke Paris