Listrik Menyala di 1.500 Desa, Bahlil: Ini Wujud Keadilan Sosial

- Jumat, 09 Januari 2026 | 18:15 WIB
Listrik Menyala di 1.500 Desa, Bahlil: Ini Wujud Keadilan Sosial

Laporan terbaru dari Kementerian ESDM menunjukkan capaian yang cukup signifikan. Sepanjang tahun 2025, Program Listrik Desa berhasil dijalankan di lebih dari 1.500 lokasi. Jumlah pelanggan yang kini menikmati aliran listrik mencapai 77.616 rumah tangga. Ini bukan sekadar angka statistik belaka, melainkan langkah nyata untuk mengejar target rasio elektrifikasi nasional dan, yang tak kalah penting, mempersempit jurang pembangunan antar daerah.

Di sisi lain, upaya ini mendapat perhatian serius dari pucuk pimpinan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerataan akses listrik merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Targetnya jelas: hingga periode 2029-2030, seluruh desa dan dusun yang tersisa berjumlah ribuan harus sudah teraliri listrik.

"Kehadiran listrik itu sebagai bentuk keadilan sosial," tegas Bahlil dalam konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM, Kamis lalu.

Menurutnya, listrik lebih dari sekadar tiang dan kabel. Itu adalah wujud keadilan yang diberikan negara kepada rakyatnya.

Namun begitu, tantangannya tidak hanya sampai di situ. Jaringan listrik yang sudah tersedia pun kadang belum bisa dinikmati oleh sebagian masyarakat. Penyebabnya klasik: biaya. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah juga menjalankan program Bantuan Pemasangan Baru Listrik (BPBL). Program ini menyasar rumah tangga berpenghasilan rendah yang terkendala biaya pemasangan awal, yang rata-rata mencapai Rp 2 hingga 2,5 juta.

"Kementerian ESDM atas arahan perintah Bapak Presiden itu memasang sebanyak 205.968 rumah. Jadi, selain program listrik desa juga ada kita pemasangan baru," jelas Bahlil.

Hingga akhir Desember 2025, angka realisasi BPBL memang sudah menyentuh 205.968 rumah tangga. Pemerintah berkomitmen untuk terus menggenjot kedua program ini. Tujuannya agar kehadiran negara benar-benar dirasakan, lewat akses energi yang adil, yang pada akhirnya diharapkan bisa mendongkrak kesejahteraan dan pemerataan.

Bahlil sendiri punya alasan personal yang kuat. Dia bercerita, masa kecilnya dihabiskan tanpa listrik hingga ia duduk di bangku SD. Pengalaman itu membuatnya paham betul, betapa listrik bisa mengubah hidup seseorang. Akses pendidikan membuka jendela ilmu, sementara aktivitas ekonomi bisa bergulir lebih lancar.

Negara, tegasnya, tak boleh absen dalam memenuhi kebutuhan dasar semacam ini.

(Rahmat Fiansyah)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar