Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Di tengah gejolak kerusuhan dalam negeri yang telah menelan banyak korban, parlemen Iran justru melayangkan peringatan keras ke arah Washington dan sekutunya, Israel. Intinya sederhana: serangan duluan dari AS tidak akan dibiarkan begitu saja.
Peringatan itu muncul tak lama setelah Presiden Donald Trump memperingatkan Tehran agar tidak menembaki para demonstran. Aksi protes besar-besaran anti-pemerintah memang telah mengguncang Iran dalam beberapa waktu terakhir.
Di depan sidang parlemen, suara Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menggema lantang. Ia menyatakan bahwa militer AS dan Israel akan berubah statusnya menjadi "sasaran yang sah" jika ancaman serangan dari Trump benar-benar diwujudkan.
"Matilah Amerika!" serunya di hadapan para anggota dewan, seperti dilaporkan AP News.
Ancaman balasan Tehran ini tentu bukan tanpa alasan. Menurut sejumlah saksi dan pengamat di luar negeri, situasi di dalam Iran sendiri cukup mencemaskan. Kekhawatiran terbesar adalah bahwa pemadaman informasi yang terjadi justru bisa memberi ruang bagi kelompok garis keras di tubuh aparat keamanan untuk melakukan penindasan lebih keras, bahkan yang berdarah-darah. Semua itu berlangsung meski peringatan Trump sudah terngiang jelas: AS siap menyerang untuk melindungi demonstran damai.
Artikel Terkait
Pengadilan Vonis 15 Tahun Penjara untuk Anak Riza Chalid atas Korupsi Minyak Rugikan Negara Rp285 Triliun
Pemerintah AS Ajukan Permintaan ke Mahkamah Agung untuk Cabut Status Perlindungan Warga Suriah
Kaesang Buka Safari Ramadan PSI dengan Kunjungan ke Dua Ponpes di Pandeglang
Anak Buronan Riza Chalid Divonis 15 Tahun Penjara dan Denda Rp 2,9 Triliun