Operasi Tewaskan Bos Kartel El Mencho Picu Gelombang Kekerasan di Meksiko

- Selasa, 24 Februari 2026 | 13:35 WIB
Operasi Tewaskan Bos Kartel El Mencho Picu Gelombang Kekerasan di Meksiko

Kabar tewasnya Nemesio Ruben Oseguera Cervantes, atau "El Mencho", dalam sebuah operasi militer langsung memicu kekacauan hebat di Meksiko. Sang bos Kartel Jalisco Nueva Generación (CJNG) itu tumbang, dan reaksinya brutal. Sedikitnya 74 orang meregang nyawa, termasuk 25 petugas keamanan. Gelombang kekerasan pun menyapu berbagai wilayah.

Menteri Keamanan, Omar Garcia Harfuch, mengonfirmasi angka korban pada Senin (23/02). Mereka yang tewas, katanya, berasal dari kalangan aparat, terduga anggota kartel, dan warga sipil.

Begitu kabar kematian El Mencho beredar, kelompok-kelompok bersenjata langsung mengamuk. Mereka membakar mobil, memblokir jalan-jalan utama. Bank, pom bensin, dan toko-toko tak luput dari serangan. Warga pun berlarian mencari tempat aman. Menurut laporan media lokal, sekitar 20 dari 32 negara bagian terdampak, mulai dari Jalisco, Michoacan, hingga Tamaulipas dan Guanajuato. Situasinya benar-benar mencekam.

Operasi Intelijen yang Panjang

Penangkapan yang berujung kematian El Mencho ini bukan kerja instan. Otoritas Meksiko menyebutnya sebagai puncak dari operasi intelijen bertahun-tahun, yang dilakukan bersama Amerika Serikat.

Menteri Pertahanan Ricardo Trevilla membeberkan, jejak sang buronan berhasil dilacak lewat seorang rekan dekat kekasihnya. Perempuan itu diantar ke Tapalpa, Jalisco, pada Jumat (20/2) untuk menemui El Mencho. Intel dari AS kemudian memastikan lokasi pertemuan itu.

Setelah perempuan itu pergi, pasukan gabungan Angkatan Darat dan Garda Nasional langsung bergerak. Mereka mengepung area itu keesokan harinya. Enam helikopter dan pengawasan udara dari Angkatan Udara mendukung operasi ini.

Dalam usaha melarikan diri, Oseguera dan para pengawalnya bersembunyi di hutan sekitar kompleks kabin. Ia terluka dalam baku tembak sengit dan akhirnya menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan ke rumah sakit.

Menurut pernyataan militer, empat anggota kartel tewas di tempat. Tiga lainnya, termasuk El Mencho, meninggal karena luka-luka saat dievakuasi ke Mexico City.

Sosok di Balik Kartel Paling Brutal

El Mencho bukan penjahat biasa. Ia memimpin CJNG, organisasi yang oleh Departemen Kehakiman AS dijuluki sebagai salah satu kartel paling brutal. Didirikan tahun 2009, kartel ini adalah pemasok utama kokain ke AS, plus memproduksi fentanyl dan metamfetamin secara masif.

Pemerintah AS bahkan pernah memasang harga $15 juta atau sekitar Rp252 miliar untuk informasi yang bisa menangkapnya.

Catatan kriminalnya panjang. Tahun 1994, pengadilan di California sudah menghukumnya karena konspirasi distribusi heroin. Ia mendekam hampir tiga tahun. Setelah bebas dan kembali ke Meksiko, karir kriminalnya justru meroket. Beberapa kali ia didakwa di pengadilan AS, terakhir pada 2022 untuk tuduhan konspirasi narkotika dan penggunaan senjata api.

Pemerintah Minta Warga Tenang

Di tengah kekacauan, Presiden Claudia Sheinbaum berusaha menenangkan situasi. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Lebih dari 250 blokade jalan yang dipasang kartel di sekitar 20 negara bagian, klaimnya, sudah dibersihkan aparat.

"Hari ini situasi sudah lebih tenang. Ada pemerintah, ada angkatan bersenjata, ada kabinet keamanan, dan koordinasi yang kuat,"

ujarnya dalam konferensi pers. Sheinbaum memastikan stabilitas negara tetap terjaga.

Namun begitu, pemerintah AS punya penilaian berbeda. Departemen Luar Negeri mereka mengeluarkan imbauan agar warga AS di Meksiko segera berlindung. Imbauan itu bahkan diperluas pada Senin, dan staf pemerintah AS disarankan kerja dari rumah.

Presiden AS Donald Trump mendesak Meksiko untuk "meningkatkan" perang melawan kartel. Bahkan, sebelumnya ia sempat mengancam akan melancarkan serangan sepihak ke wilayah Meksiko untuk menghentikan arus narkoba. Ancaman itu ditampik keras oleh Presiden Sheinbaum.

Ketegangan yang Belum Reda

Sehari setelah operasi, suasana di Tapalpa terasa ganjil. Kontras sekali. Anak-anak terlihat bermain lagi, tapi dentuman tembakan masih sesekali terdengar. Di pinggir kota, seorang pria ditemukan tewas di samping mobilnya yang bolong-bolong kena peluru.

Pasukan keamanan dengan senjata lengkap masih berpatroli, memburu sisa-sisa anggota kartel. Blokade jalan juga masih dilaporkan di beberapa titik di Jalisco.

Di Guadalajara, ibu kota negara bagian itu, aktivitas perlahan mulai kembali. Padahal hari Minggu (22/02), kota itu seperti kota mati karena warga takut keluar rumah.

Kekacauan sempat membuat lebih dari 1.000 orang terdampar semalaman di kebun binatang Guadalajara. Mereka terpaksa tidur di dalam bus demi keselamatan. Banyak keluarga dari negara bagian lain seperti Zacatecas tak bisa pulang.

"Semuanya kami izinkan tetap berada di dalam kebun binatang demi keselamatan mereka, dari anak-anak hingga lansia,"

kata Direktur Kebun Binatang Guadalajara, Luis Soto Rendón.

Cerita serupa datang dari Irma Hernández (43), petugas keamanan sebuah hotel. Ia kesulitan berangkat kerja karena transportasi umum lumpuh. Akhirnya dijemput mobil khusus dari kantornya, sementara keluarganya memilih mengurung diri di rumah.

"Saya khawatir karena tidak tahu bagaimana harus pulang jika sesuatu terjadi,"

keluhnya.

Meski situasi dikatakan mulai mereda, kekhawatiran warga masih membayang. Mereka bertanya-tanya, apa yang akan terjadi selanjutnya setelah salah satu raja narkoba paling berkuasa di Meksiko ini tumbang? Kekerasan baru mungkin saja mengintai di sudut-sudut kota yang masih berusaha bangkit dari trauma.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar