Tradisi Bebekalan Gili Iyang: Fakta di Balik Pesta Pertunangan Viral Anak SD & TK di Sumenep

- Jumat, 14 November 2025 | 18:25 WIB
Tradisi Bebekalan Gili Iyang: Fakta di Balik Pesta Pertunangan Viral Anak SD & TK di Sumenep
Viral Pesta Pertunangan Anak SD dan TK di Sumenep, Tradisi Bebekalan Gili Iyang

Pesta Pertunangan Anak SD dan TK di Sumenep Viral, Ini Penjelasan Tradisi Bebekalan

Sebuah video pesta pertunangan dua anak kecil, seorang siswa SD dan seorang anak TK, menjadi viral di media sosial. Acara adat yang berlangsung meriah di Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, ini menarik perhatian karena dihelat layaknya pernikahan orang dewasa.

Dalam rekaman yang beredar, terlihat Aqil dan Putri mengenakan pakaian pengantin yang lengkap. Iringan musik tradisional khas daerah turut memeriahkan acara yang digelar pada 6 November 2025 tersebut.

Makna Tradisi Bebekalan di Balik Pesta Pertunangan

Mohammad Alwi, orang tua dari mempelai wanita yang juga Kepala Desa Bancamara, menjelaskan fenomena ini. Ia menegaskan bahwa pesta pertunangan anak-anak ini merupakan bagian dari tradisi lama masyarakat Gili Iyang yang disebut Bebekalan.

Menurutnya, dalam adat setempat, anak yang telah berusia di atas lima tahun biasanya ditunangkan melalui acara adat Bebekalan ini. Istilah ini berasal dari bahasa Madura yang menggambarkan prosesi lamaran atau pertunangan.

Tanggapan Masyarakat dan Penjelasan Keluarga

Alwi mengakui bahwa video tersebut viral dan menuai beragam tanggapan dari netizen. Banyak yang menyoroti usia kedua mempelai, bahkan ada yang menyebut tradisi ini primitif.

"Acara kemarin cukup meriah dan alhamdulillah berjalan lancar. Memang sempat viral dan mendapat berbagai tanggapan. Ada yang menyebut kami primitif, padahal ini adalah tradisi yang sudah lama dilakukan di Gili Iyang," ujar Alwi menanggapi.

Konsep Unik Pertunangan dengan Tema Besanan

Alwi memaparkan bahwa pesta pertunangan kali ini mengusung konsep yang istimewa, yaitu tema besanan. Pada konsep ini, kedua keluarga memakai pakaian seragam dan bersama-sama mengantar anak laki-laki ke rumah pihak perempuan.

Acara semacam ini dalam tradisi lokal biasa disebut dengan sebutan gawe, karje, atau gabay. Alwi berharap masyarakat luas dapat memahami dan tidak salah menafsirkan tradisi ini, karena bagi warga Gili Iyang, pertunangan anak sejak dini adalah warisan budaya yang wajib dijaga kelestariannya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar