Namun, Duta Besar Iran untuk Suriah, Hossein Akbari, menyanggah bahwa serangan udara AS tidak menargetkan sasaran yang terkait dengan militer Iran. Ia mengklaim bahwa serangan tersebut hanya bertujuan menghancurkan infrastruktur sipil di Suriah dan bukan terkait dengan milisi.
Pemerintah Irak mengumumkan bahwa serangan tersebut menewaskan 16 orang dan melukai 23 lainnya. Daerah-daerah yang menjadi target serangan udara AS mencakup lokasi pasukan keamanan Irak dan daerah dekat dengan permukiman sipil. Sebagai respons, Kementerian Luar Negeri Irak memanggil kuasa usaha AS di Bagdad untuk menyampaikan protes resmi.
Serangan ini dilakukan dengan menggunakan beberapa jenis pesawat, termasuk pesawat pengebom jarak jauh B-1 yang diterbangkan dari pangkalan militer AS.
Baca Juga: Aksi Mendebarkan: CEO Teknologi Bongkar Rahasia di Depan Senat AS!
Serangan tersebut semakin memperkeruh konflik yang telah merambah ke Timur Tengah sejak pecahnya perang antara Israel dan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, menegaskan bahwa serangan ini merupakan sebuah kesalahan besar yang dilakukan oleh Amerika Serikat.***
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: kabarpalu.net
Artikel Terkait
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April