Tanpa kepergian seluruh pasukan Amerika dari Teluk, perdamaian mustahil tercipta. Begitulah pernyataan tegas yang dilontarkan Mohsen Rezaee, anggota dewan penasihat pemimpin tertinggi Iran. Rezaee, yang juga mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam, menegaskan bahwa konflik dengan AS takkan berakhir selama militer Amerika masih bercokol di kawasan itu.
Lebih dari itu, Teheran bakal menuntut ganti rugi penuh. Tuntutan itu mencakup semua kerusakan akibat agresi AS dan Israel. Jaminan keamanan yang kuat dari Washington juga menjadi syarat mutlak jika perang ini benar-benar ingin diakhiri.
Menurut Rezaee, Iran bahkan sudah berhasil "menghancurkan prestise Amerika". Dia yakin negaranya akan muncul dari konflik ini dengan kedudukan yang jauh lebih kuat di kawasan. Klaim ini disampaikan di tengah situasi yang suram.
Bagaimana tidak? Serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu menghantam keras. Mereka menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah komandan senior. Di hari-hari awal kampanye militer, tragedi mengerikan terjadi. Sebuah rudal Tomahawk AS menghantam sekolah putri Shajarah Tayyebeh. Korban berjatuhan sedikitnya 175 nyawa melayang, dan kebanyakan adalah anak-anak. Data dari otoritas setempat menyebut total korban jiwa warga sipil telah melampaui 1.300 orang sejak serangan dimulai.
Artikel Terkait
Menteri Iran Tuduh Israel Sensor Dampak Serangan Balasan
Iran Bantah Klaim Israel Soal Nasib Khamenei, Sebut Perang Mental
Netanyahu Perintahkan Persiapan Darurat Menghadapi Eskalasi dengan Iran
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung