Penolakan tersebut didasari kekhawatiran Negeri Paman Sam itu jika Rusia memanfaatkan kerja sama dengan Turki untuk "membajak" teknologi yang dimiliki F-35 dalam pengembangan S-400 atau jet tempur lainnya.
Akan tetapi, Nuland yakin bahwa masalah Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) dapat diselesaikan sehingga proses penjualan F-35 ke salah satu negara besar Mediterania itu berjalan dengan lancar.
"Jika kita bisa mengatasi masalah ini, masalah CAATSA akan hilang, dan kita bisa melanjutkan diskusi mengenai F-35," ujarnya menambahkan.
Dibukanya kembali pintu kerja sama dengan Turki untuk proyek pengembangan F-35 bukan tanpa alasan.
Amerika Serikat juga mengetahui kabar bahwa parlemen negara tersebut telah mengesahkan undang-undang yang mengizinkan Swedia bergabung dengan NATO.
Karena ini pula, Turki juga memperoleh kesepakatan untuk membeli 40 unit F-16 (juga diproduksi oleh Lockheed Martin) yang sudah dimodernisasi dengan total nilai 23 miliar dolar AS baru-baru ini.
Untuk diketahui, keputusan Turki untuk membeli S-400 dari Rusia didasari atas penolakan terhadapnya ketika hendak mengakuisisi sistem pertahanan udara Patriot.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: zonajakarta.com
Artikel Terkait
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April