Suasana di Teheran Minggu lalu tegang, tapi juga penuh semangat. Ribuan pendukung berkumpul, memperingati momen bersejarah kembalinya Ayatollah Ruhollah Khomeini ke Iran pada 1979. Di tengah kerumunan itu, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan pesan yang keras dan gamblang, terutama ditujukan ke arah Washington.
Khamenei secara terbuka memperingatkan Amerika Serikat. Intinya: jangan coba-coba. Menurutnya, serangan apa pun dari AS terhadap Iran tidak akan berakhir sederhana. Itu akan memicu "perang regional".
“Mereka harus tahu bahwa jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional,” tegas Khamenei.
Peringatan itu bukan datang dari ruang hampa. Latar belakangnya adalah meningkatnya kehadiran militer AS di Timur Tengah di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Khamenei menilai langkah-langkah Washington itu mengancam. Bahkan, ia menuduh AS punya nafsu untuk “melahap” Iran dan merebut kendali atas sumber daya minyak serta gas alamnya yang melimpah.
Di sisi lain, pidato Khamenei juga menyentuh gelombang protes dalam negeri yang sempat mengguncang negara itu. Ia menyebutnya sebagai “pemberontakan yang mirip dengan kudeta”.
“Pemberontakan baru-baru ini mirip dengan kudeta. Tentu saja, kudeta itu telah dipadamkan,” ujarnya.
Ia menuding para pengunjuk rasa telah menyerang berbagai simbol negara dari kantor pemerintahan, bank, hingga masjid. Bahkan, salinan Al-Qur’an disebut ikut menjadi korban pembakaran.
Namun begitu, narasi pemerintah Iran soal penanganan protes ini ditentang keras oleh banyak pihak. Laporan dari PBB, kelompok HAM internasional, dan oposisi Iran di luar negeri menyoroti korban jiwa yang jauh lebih besar. Seorang pelapor khusus PBB menyebut angka korban tewas bisa melampaui 20.000 orang, meski data pasti sulit didapat karena pemadaman internet besar-besaran. Sementara, aktivis berbasis di AS mengklaim telah mengonfirmasi 6.713 kematian dan masih menyelidiki 17.000 kasus lainnya.
Pemerintah Iran membantah semua tudingan itu. Media pemerintah mengeluarkan angka resmi yang jauh lebih rendah: 3.117 orang tewas, dengan rincian 2.427 warga sipil dan sisanya anggota pasukan keamanan.
Lantas, bagaimana tanggapan Washington? Presiden Donald Trump terlihat lebih memilih bahasa diplomasi, meski diselipkan nada meragukan. Saat ditanya tentang ancaman perang regional dari Khamenei, Trump hanya berkomentar singkat, “Tentu saja dia akan mengatakan itu.”
“Semoga kita bisa mencapai kesepakatan. Jika tidak, maka kita akan tahu apakah dia benar atau tidak," kata Trump.
Jadi, situasinya seperti ini: peringatan perang dari Teheran, klaim-klaim yang saling bertolak belakang tentang kekerasan domestik, dan respons AS yang terkesan menunggu. Ketegangan masih menggantung, dan dunia menunggu langkah selanjutnya.
Artikel Terkait
Kremlin Perketat Keamanan Putin di Tengah Kekhawatiran Kudeta dan Gelombang Pembunuhan Tokoh Militer
Persetujuan Publik terhadap Trump Anjlok ke 34 Persen, Terendah Sepanjang Masa Jabatan Kedua
Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek