Tapi bagi banyak warga Jerman, ini soal bertahan hidup. Delapan dari sepuluh orang di sana yakin Vladimir Putin tidak berniat damai. Mereka khawatir perang akan meluas ke negara NATO lain sekitar tahun 2029. Dalam bayangan ancaman seperti itu, transformasi militer bukan lagi pilihan politik. Ini sudah jadi perjuangan eksistensial.
Jejak Sejarah yang Panjang dan Kelam
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Jerman membangun kekuatan militer besar. Jejaknya bisa dilacak jauh ke belakang. Pada Perang Dunia I, mereka sudah jadi kekuatan darat paling ditakuti di dunia. Doktrinnya terorganisir dengan efisiensi mengerikan, didukung industri baja dan artileri berat buatan Krupp yang menghancurkan benteng-benteng Eropa.
Mereka juga menantang Inggris di lautan dengan armada kapal selam U-Boat, sebuah terobosan yang mengubah peperangan laut selamanya.
Tapi kekalahan dalam PD I menghancurkan mereka. Perjanjian Versailles memangkas militer Jerman hingga tinggal 100.000 personel, tanpa tank atau pesawat. Ekonomi hancur oleh hiperinflasi. Keadaan kacau ini, sayangnya, jadi lahan subur bagi ideologi radikal untuk bangkit.
Dan bangkitlah mereka di era Nazi. Dengan doktrin Blitzkrieg atau 'perang kilat', Jerman menggabungkan serangan tank, infanteri bermotor, dan dukungan udara. Hasilnya mencengangkan: Polandia dan Prancis takluk hanya dalam hitungan minggu.
Teknologi mereka pun melompat jauh. Mereka menciptakan roket balistik V-2 dan pesawat jet tempur operasional pertama, Me 262. Tank Tiger dan Panther jadi momok di medan perang. Singkatnya, Jerman saat itu memimpin perlombaan teknologi militer.
Pasca 1945, Jerman mengalami demiliterisasi total. Mereka dilarang punya angkatan bersenjata. Fokusnya beralih sepenuhnya ke pembangunan ekonomi, yang sukses mereka raih dengan 'Keajaiban Ekonomi' atau Wirtschaftswunder. Mereka jadi raksasa ekonomi, tapi kerdil secara militer.
Bahkan setelah Bundeswehr dibentuk tahun 1955 sebagai bagian NATO, sifatnya sangat terbatas dan dikontrol ketat. Budaya pasifisme mengakar kuat sebagai penebusan dosa masa lalu. Hingga awal 2020-an, militer Jerman masih dikritik karena peralatan usang dan kurang investasi.
Semuanya berubah total pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina menjadi pukulan keras yang membangunkan Jerman dari tidur panjangnya. Momen itu disebut Zeitenwende, titik balik zaman.
Di bawah kepemimpinan Olaf Scholz lalu Friedrich Merz, Jerman mulai membuang jauh-jauh pasifisme lamanya. Mereka sadar, kemakmuran ekonomi tak berarti tanpa pertahanan yang kuat. Kini, dengan anggaran rekor 108 miliar euro, mereka bukan lagi negara yang takut pada kekuatan militernya sendiri.
Mereka berambisi memimpin. Inovasi teknologi yang dulu jadi andalan dihidupkan kembali dalam bentuk sistem senjata digital, pertahanan siber, dan tank generasi terbaru.
Jadi, inilah siklus sejarah Jerman yang luar biasa: dari pusat militerisme dunia, hancur total, lalu menjadi pasifis tulen, dan kini bangkit kembali sebagai benteng pertahanan Eropa. Bedanya, kali ini kebangkitannya bukan untuk agresi. Ini murni respons atas dunia yang berubah cepat, ancaman yang nyata, dan kepercayaan pada sekutu lama yang mulai luntur. Era baru telah dimulai.
Artikel Terkait
Iran Bantah Klaim Israel Soal Nasib Khamenei, Sebut Perang Mental
Netanyahu Perintahkan Persiapan Darurat Menghadapi Eskalasi dengan Iran
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung
Iran Tegaskan Hanya Diplomasi Solusi untuk Isu Nuklir, Peringatkan Konsekuensi Militer