Gambar: Seorang tentara Israel duduk sendirian dengan latar belakang buram, mengenakan seragam tempur lengkap.
Dua tahun perang di Gaza ternyata meninggalkan luka yang dalam, bukan hanya di tanah yang hancur, tapi juga di jiwa para tentara Israel. Laporan yang beredar Jumat lalu (16/1/2026) menyoroti sebuah krisis yang makin menganga: lonjakan drastis kasus gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan upaya bunuh diri di kalangan pasukan mereka.
Angkanya cukup mencengangkan. Sejak September 2023, Kementerian Pertahanan Israel mencatat kenaikan kasus PTSD hampir 40 persen. Dan prediksinya suram bisa melonjak hingga 180 persen pada 2028 jika konflik ini terus berlarut. Ini adalah bayaran psikologis dari sebuah operasi militer yang panjang, yang di sisi lain telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan merenggut lebih dari 1.100 nyawa tentara Israel sendiri.
Data resmi memperlihatkan gambaran yang lebih pahit. Dari sekitar 22.300 personel yang dirawat karena luka perang, ternyata 60 persen di antaranya justru menderita trauma psikologis atau gangguan mental. Artinya, luka di pikiran lebih banyak daripada luka di tubuh.
Laporan dari Maccabi, penyedia layanan kesehatan besar di Israel, ikut mengonfirmasi tren mengkhawatirkan ini. Pada 2025, 39 persen personel militer yang mereka rawat mencari bantuan untuk kesehatan mental. Sementara itu, 26 persen lainnya mengaku punya gejala depresi.
Namun begitu, yang paling mengerikan adalah angka percobaan bunuh diri. Sebuah komite parlemen menemukan fakta bahwa dalam periode Januari 2024 hingga Juli 2025 saja, ada 279 tentara yang mencoba mengakhiri hidupnya. Dan pada 2024, 78 persen dari kasus itu datang dari tentara-tempur garis depan.
Menurut para psikolog, akar masalahnya tak cuma rasa takut mati. Ada sesuatu yang lebih kompleks: "cedera moral".
Ronen Sidi, seorang psikolog klinis yang meneliti veteran di Emek Medical Center, menjelaskan bahwa banyak tentara bergumul dengan rasa bersalah mendalam atas tindakan mereka di medan perang. Cedera moral ini muncul saat apa yang mereka lakukan bertabrakan dengan suara hati dan nilai-nilai yang mereka pegang.
"Hidup dengan perasaan bahwa Anda telah membunuh orang yang tidak bersalah adalah perasaan yang sangat sulit dan Anda tidak dapat memperbaiki apa yang telah Anda lakukan,"
ujar Sidi, seperti dikutip media.
Dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ambil contoh Paul, 28 tahun, ayah tiga anak yang sebelumnya bekerja sebagai manajer proyek. Kini, sebagai tentara cadangan yang baru pulang, suara desing peluru masih terus mengusik pikirannya. Ia hidup dalam keadaan siaga tinggi terus-menerus, seolah-olah masih berada di zona pertempuran, padahal secara fisik sudah kembali ke rumah.
Sayangnya, jalan untuk mendapatkan pertolongan tidaklah mulus. Birokrasi berbelit justru jadi penghalang besar. Tentara yang butuh bantuan harus melewati proses penilaian komite dari Kementerian Pertahanan sebuah prosedur yang bisa makan waktu berbulan-bulan dan seringkali justru mematahkan semangat mereka untuk melanjutkan.
Akibatnya, sistem kesehatan mental Israel pun kewalahan. Lembaga-lembaga terkait kebanjiran permintaan, dan banyak korban trauma yang tak kunjung mendapat terapi. Bahkan, banyak yang tidak menyadari bahwa tekanan berat yang mereka rasakan itu adalah dampak langsung dari apa yang mereka alami di lapangan.
"Risiko untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri akan meledak jika ini tidak ditangani dengan serius," kata Sidi dalam kesempatan lain. Sebuah peringatan yang keras, di tengah perang yang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Artikel Terkait
Indonesia Kaji Permintaan Akses Udara AS, Kemenlu Peringatkan Risiko Terseret Konflik
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital