Gambar: Seorang pejabat militer AS sedang mempelajari peta di belakang layar yang menampilkan kawasan Timur Tengah.
Iran punya pesan keras untuk Washington: jangan coba-coba menyerang. Peringatan itu meluncur setelah Presiden Donald Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan berbagai opsi tanggapan atas gelombang protes yang melanda negara tersebut. Dan situasinya makin panas korban jiwa dari aksi demonstrasi itu disebut-sebut sudah mencapai ratusan.
Menurut seorang pejabat Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya, Trump sudah menerima pengarahan soal sejumlah kemungkinan serangan militer ke Iran. Tapi, rencana semacam itu langsung menuai keraguan. Baik dari politisi Partai Republik maupun Demokrat, mereka mempertanyakan apakah pendekatan militer benar-benar solusi terbaik. Di sisi lain, Israel sendiri sudah siaga tinggi, mengantisipasi kemungkinan Amerika akhirnya turun tangan.
Rupanya, pengarahan untuk Trump cukup detail. Pejabat tadi menyebut opsi yang dibahas termasuk target-target sipil. Dan sang Presiden disebut sedang serius mempertimbangkan untuk memberi lampu hijau.
Laporan The Wall Street Journal mengungkap, Trump rencananya akan dapat pengarahan lagi Selasa depan. Kali ini, fokusnya pada opsi spesifik menanggapi kerusuhan di Iran. Pertemuan itu akan dihadiri pejabat-pejabat tinggi untuk menentukan langkah selanjutnya. Selain serangan militer konvensional, pilihan lain yang ada di meja Trump antara lain: memperkuat dukungan online untuk kelompok anti-pemerintah, melancarkan serangan siber rahasia ke situs militer dan sipil Iran, atau menjatuhkan sanksi tambahan yang lebih keras.
Di tengah semua ini, angka korban terus membengkak. Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS, sedikitnya 538 orang tewas dalam kekerasan terkait demonstrasi. Dari jumlah itu, 490 di antaranya adalah pengunjuk rasa. Kelompok ini juga melaporkan lebih dari 10.600 orang telah ditangkap oleh otoritas Iran.
Lembaga lain, Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia, punya angka berbeda. Mereka menyebut setidaknya 192 pengunjuk rasa terbunuh per Minggu lalu. Memang, angka-angka ini bervariasi. Sulit bagi kelompok HAM untuk mengonfirmasi data di lapangan, apalagi sejak internet di Iran dipadamkan. Rezim sendiri tutup mulut soal jumlah pastinya, dan mustahil untuk melakukan verifikasi independen.
Yang jelas, lonjakan korban terjadi ketika aparat semakin gencar menindak protes yang kini sudah masuk minggu kedua. Dengan akses informasi yang terhambat, banyak pengamat memperingatkan: angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar.
Tindakan keras Tehran inilah yang memicu ancaman intervensi dari Trump. Dia sebelumnya berjanji akan "menyelamatkan" para pengunjuk rasa jika pemerintah Iran membunuh mereka. Ancaman itu diulanginya lagi Sabtu malam lewat unggahan di Truth Social.
"Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin tidak seperti sebelumnya. AS siap membantu!!!," tulisnya.
Tak pelak, pejabat Iran geram. Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, langsung memberi peringatan balasan.
“Jika terjadi serangan terhadap Iran, baik wilayah yang diduduki maupun seluruh pusat, pangkalan, dan kapal militer Amerika di wilayah tersebut akan menjadi target sah kami,” tegas Ghalibaf.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, punya tuduhan lain. Dia menuding AS dan Israel berada di balik kerusuhan, dan membawa masuk "teroris" yang menghancurkan fasilitas publik.
“Keluarga-keluarga, saya mohon: jangan biarkan anak-anak Anda bergabung dengan perusuh dan teroris yang memenggal kepala orang dan membunuh orang lain,” kata Pezeshkian dalam sebuah wawancara televisi, menunjukkan sikap yang semakin keras.
Malam Ahad lalu, pemerintah mengumumkan tiga hari berkabung nasional untuk "para syuhada", termasuk anggota pasukan keamanan yang tewas. Pezeshkian juga mendesak masyarakat ikut "pawai perlawanan nasional" pada Senin untuk mengecam kekerasan yang oleh pemerintah disebut sebagai ulah "penjahat teroris perkotaan".
Gerakan protes kali ini adalah yang terbesar di Iran dalam beberapa tahun terakhir. Awalnya dipicu oleh anjloknya nilai mata uang, tapi tuntutan para demonstran dengan cepat merambat ke tuntutan reformasi politik dan penggulingan pemerintah.
Memang rezim ini pernah menghadapi gelombang protes massal sebelumnya. Tapi analis menyebut kerusuhan sekarang ini terjadi saat pemerintah sedang lemah diterpa krisis ekonomi dan efek perang dengan Israel musim panas lalu. Pihak berwenang sudah mulai menangkapi para pentolan gerakan.
“Tadi malam, terjadi penangkapan besar-besaran terhadap unsur-unsur utama kerusuhan, yang Insya Allah akan dihukum setelah melalui prosedur hukum,” kata Kapolri Ahmad-Reza Radan di TV pemerintah, tanpa merinci jumlahnya.
Jaksa Agung Iran bahkan sudah mengeluarkan ancaman serius: mereka yang protes, atau sekadar membantu pengunjuk rasa, bisa dituduh sebagai "musuh Tuhan" sebuah dakwaan yang ujung-ujungnya bisa hukuman mati. Di kubu AS, ancaman Trump dapat dukungan. Senator Lindsey Graham, misalnya, menulis di media sosial bahwa "mimpi buruk panjang Iran akan segera berakhir".
Suasana memang mencekam. Dan semua pihak kini menunggu, langkah apa selanjutnya yang akan diambil Washington.
Artikel Terkait
Tiga Guru Besar Kedokteran Siap Jadi Saksi Ahli untuk Dokter Tifa di Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi
Iran Tuding AS-Israel Ciptakan Perpecahan, Negara Teluk Kutuk Serangan Rudal ke Kuwait
Pemimpin Tertinggi Iran Bersembunyi di Lokasi Rahasia, Hambat Negosiasi dengan AS
Iran Pancarkan Sinyal Diplomasi dan Perlawanan di Tengah Negosiasi dengan AS