Di tengah kepanikan dan suara tembakan di Pantai Bondi, Minggu lalu, seorang pria memutuskan untuk bertindak. Namanya Ahmed El Ahmed. Aksi spontannya melumpuhkan pelaku penembakan massal bukan cuma menyelamatkan nyawa, tapi juga menyentuh hati banyak orang di seluruh dunia. Sekarang, gelombang dukungan untuknya mengalir deras.
Lebih dari 18 ribu orang telah menyumbang melalui kampanye GoFundMe. Dana yang terkumpul fantastis, melampaui satu juta dolar AS. Yang menarik, ada sumbangan sangat besar sebesar 100 ribu dolar dari miliarder AS Bill Ackman. Rupanya, kisah keberanian Ahmed itu mampu memotivasi siapa saja, dari orang biasa sampai pengusaha ternama.
Momen heroik itu terekam jelas dan viral di media sosial. Dalam video itu, Ahmed (43 tahun) terlihat bersembunyi di balik sebuah mobil di area parkir Campbell Parade. Suasana kacau. Tapi dia tidak tinggal diam. Dengan langkah cepat, ia mendekati pelaku dan langsung bergumul merebut senjata api.
Perjuangannya tidak mudah. Ahmed akhirnya terkena dua peluru, di bahu dan lengan kirinya. Namun, senjata itu berhasil direbutnya.
Yang bikin merinding, sebelum maju, dia sempat berpesan pada sepupunya, Jozay Alkanj.
“Aku akan mati. Tolong sampaikan kepada keluargaku bahwa aku telah turun untuk menyelamatkan nyawa orang.”
Kalimat itu seperti wasiat sekaligus tekad bulat. Untungnya, dia selamat.
Pujian pun berdatangan. Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, secara khusus menyebut nama Ahmed. “Tanpa keberaniannya yang tanpa pamrih, lebih banyak nyawa yang akan hilang,” ujar Minns. Sebuah pengakuan resmi yang pantas didapatkannya.
Lalu, siapa sebenarnya Ahmed El Ahmed? Dia adalah warga Suriah yang sudah menetap di Sydney lebih dari sepuluh tahun. Sejak 2021, dia mengelola sebuah toko tembakau dan minimarket di Sutherland, kawasan selatan Sydney. Hidupnya sederhana. Dia juga seorang ayah dari dua anak perempuan, yang masih kecil-kecil, usia lima dan enam tahun.
Saat ini tokonya terpaksa ditutup sementara. Kondisi Ahmed masih perlu perawatan intensif. Dia sudah menjalani satu operasi dan kemungkinan butuh dua atau tiga operasi lagi untuk pemulihan total.
Nah, soal pelaku. Polisi menembak mati seorang pria berusia 50 tahun di lokasi, yang diduga sebagai otak penembakan. Namanya Sajid Akram. Putranya, Naveed Akram (24), dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Korban jiwa dari peristiwa mengerikan ini mencapai 16 orang, termasuk satu pelaku. Sedangkan puluhan lainnya, sekitar 40 orang, mengalami luka-luka.
Menurut sejumlah laporan, insiden ini diduga menargetkan kelompok Yahudi yang sedang merayakan Hanukkah atau Festival Cahaya. Bondi sendiri dikenal sebagai kawasan dengan populasi Yahudi yang signifikan. Saat kejadian, diperkirakan ada seribu orang yang berkumpul di sana untuk perayaan itu. Suasana sukacita tiba-tiba berubah jadi mimpi buruk.
Kini, sementara Ahmed berjuang pulih di rumah sakit, kisahnya jadi pengingat tentang kemanusiaan di tengah tragedi. Tentang satu keputusan berani yang mengubah segalanya.
Artikel Terkait
Kremlin Perketat Keamanan Putin di Tengah Kekhawatiran Kudeta dan Gelombang Pembunuhan Tokoh Militer
Persetujuan Publik terhadap Trump Anjlok ke 34 Persen, Terendah Sepanjang Masa Jabatan Kedua
Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek