Noe Letto: Lagu, Logika, dan Sebuah Pelantikan Baru
Nama Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau yang lebih dikenal sebagai Noe Letto, belakangan mencuat bukan karena single baru. Justru, ia muncul dalam berita resmi negara. Kamis lalu, tepatnya 15 Januari 2026, musisi itu dilantik menjadi Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Pelantikan ini tentu mengundang tanda tanya. Publik lebih mengenalnya sebagai vokalis band Letto yang melantunkan "Ruang Rindu", atau sebagai putra sulung budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Lantas, apa yang membawanya ke ruang rapat yang membahas geopolitik dan geostrategi?
Jawabannya mungkin terletak pada jalan hidupnya yang tak biasa. Di balik image musisi yang puitis, tersimpan latar pendidikan yang cukup mentereng. Noe ternyata pernah kuliah di Universitas Alberta, Kanada, di tahun 1997.
Masa kuliahnya tak mudah. Ia harus berjuang menghadapi krisis moneter dan bekerja paruh waktu untuk bertahan. Namun, pada 2003, ia berhasil menyandang gelar Bachelor of Science dengan prestasi mengambil dua jurusan sekaligus: Matematika dan Fisika. Jarang yang menyangka, pencipta lagu romantis itu justru punya dasar keilmuan yang kuat di bidang eksakta.
Kembali ke Indonesia, dunia seni tetap memanggilnya. Ia mendalami produksi musik di studio KiaiKanjeng. Lalu, bersama kawan-kawan lamanya dari SMA Negeri 7 Yogyakarta, ia membentuk Letto di tahun 2004. Album perdana mereka, "Truth, Cry, and Lie", meledak di pasaran dan meraih double platinum.
Namun, bakat Noe tak berhenti di musik. Di tahun 2008, ia mendirikan rumah produksi film, Pic[k]Lock Productions. Beberapa film yang diproduserinya, seperti "Minggu Pagi di Victoria Park" dan "Guru Bangsa: Tjokroaminoto", bahkan masuk nominasi di Festival Film Indonesia dan memenangi penghargaan di Festival Film Bandung.
Artikel Terkait
Badai Grooming atau Pelecehan? Rian DMasiv Dituding Pengguna Threads
Ali Fikry Ungkap Kehangatan Keluarga di Balik Layar Esok Tanpa Ibu
Tamara Tyasmara: Olahraga 4 Jam Sehari Demi Berat Badan Ideal di Layar Kaca
Di Balik Kabut Bulusaraung, Seorang Ayah Bertahan Menunggu