Dana Rp 101 Triliun Danantara untuk BUMN Tekstil Baru, Bisakah Bangkitkan Pasar yang Lesu?

- Jumat, 16 Januari 2026 | 11:12 WIB
Dana Rp 101 Triliun Danantara untuk BUMN Tekstil Baru, Bisakah Bangkitkan Pasar yang Lesu?

Wacana pemerintah untuk membentuk BUMN khusus tekstil akhirnya mendapat angin segar. Danantara Indonesia disebut siap mengucurkan modal fantastis, mencapai 6 miliar dolar AS atau setara Rp 101 triliun. Angka yang tak main-main untuk menghidupkan kembali industri yang dulu pernah jaya.

Rencana ini ternyata datang langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkannya usai rapat di Hambalang, Bogor, pada Minggu lalu. “Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali. Sehingga pendanaan USD 6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara,” kata Airlangga di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (14/1).

Lantas, apakah maksudnya menghidupkan perusahaan lama? Airlangga menegaskan bukan itu. “Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil, tidak menghidupkan kembali,” jelasnya. Jadi, ini benar-benar entitas baru yang akan dibangun dari nol.

Latar belakang keputusan ini cukup mendesak. Dalam rapat tersebut, dibahas sektor-sektor yang paling rentan terkena imbas tarif resiprokal dari Amerika Serikat. Ternyata, tekstil dan produk turunannya seperti garmen dan sepatu masuk dalam daftar teratas yang berisiko tinggi. Karena itulah, Prabowo meminta disiapkan skema pertahanan. Pemerintah bahkan sudah punya peta jalan ambisius: menaikkan nilai ekspor tekstil dari 4 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS dalam kurun satu dekade.

Respons Positif dari Danantara

Bagaimana tanggapan pihak Danantara? CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyambut baik wacana ini. Ia terbuka dengan investasi yang mungkin memberi return lebih rendah, asalkan dampak penciptaan lapangan kerjanya besar. “Mungkin tekstil kan salah satu yang dari segi pencapaian kita lapangan pekerjaan itu sangat besar,” ujarnya dalam konferensi pers Realisasi Investasi Triwulan IV 2025, Kamis (15/1).

Rosan, yang juga merangkap sebagai Menteri Investasi, melihat potensi di balik aset-aset bermasalah di industri ini. “Kita lihat, selama kita yakin bahwa nanti kita bisa turn around perusahaan itu melakukan restrukturisasi secara maksimal,” jelasnya. Meski begitu, ia tak merinci lebih jauh kaitannya dengan upaya penyelamatan PT Sri Rejeki Isman (Sritex) yang sedang dalam proses kepailitan.

Pasar Sepi, Tantangan Nyata di Lapangan

Namun begitu, di luar ruang rapat dan wacana investasi miliaran dolar, kondisi riil pasar tekstil justru sedang lesu. Coba tengok Pasar Tekstil Cipadu di Tangerang. Suasananya lengang, jauh dari hingar-bingar pusat perdagangan terbesar di wilayah itu. Pedagang lebih banyak duduk-duduk, ngopi, atau mengobrol, ketimbang melayani pembeli.

Edison, salah seorang pedagang yang sudah berjualan sejak 2005, merasakan betul penurunan ini. Menurutnya, kondisi mulai terasa sejak 2022, pasca pandemi, dan terus merosot. “Untuk saat ini toko aja sekarang banyak yang kosong nih,” keluhnya. Omzetnya pun hanya bertahan di angka recehan. Bertahan saja sudah syukur.

Untuk menyiasatinya, Edison mencoba peruntungan lewat penjualan online, meski skalanya masih terbatas. Pasokan dari industri rumahan dan garmen kecil juga semakin sulit karena banyak yang tutup. Yang cukup mencengangkan, bahkan menjelang Lebaran 2026 nanti, ia tak lagi berharap ada lonjakan permintaan seperti dulu. Produksi yang melemah, menurutnya, membuat kebutuhan bahan baku ikut merosot. Realitas inilah yang harus dihadapi oleh BUMN tekstil baru nanti, di tengah gempuran wacana besar dan angka-angka fantastis.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar