Masalah harga jadi alasan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) untuk mengganti mitra galangan kapalnya. Perusahaan pelayaran itu memutuskan untuk tidak lagi menggunakan jasa PT Adiluhung Sarasnasegara Indonesia (ASSI) untuk proyek kapal ketiganya. Sebagai gantinya, mereka menunjuk PT Tegal Shipyard Utama (TSU).
Menariknya, meski sudah ditunjuk sebelumnya, ternyata belum ada kontrak resmi yang diteken dengan ASSI. Artinya, uang muka sebesar Rp2,03 miliar dari total perkiraan biaya awal Rp35 miliar pun belum ada yang keluar.
Direktur PJHB, Go Sioe Bie, menjelaskan situasi ini.
"Pembayaran uang muka sebesar Rp2,03 miliar baru akan dilakukan setelah penandatanganan kontrak pembangunan kapal," ujarnya dalam surat resmi ke Bursa Efek Indonesia, Senin (2/3/2026).
Menurut Go, keputusan beralih ke TSU murni karena pertimbangan finansial. TSU menawarkan harga yang lebih kompetitif. Namun begitu, dia menegaskan bahwa secara kapasitas dan rekam jejak, kedua galangan itu punya kompetensi teknis yang kurang lebih setara.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dengan ASSI? Rupanya, galangan yang berbasis di Samarinda dan punya fasilitas di Madura itu menaikkan harga. Kenaikan ini membuat PJHB kebingungan, bahkan sampai tidak bisa memulai proses pengajuan gambar teknis ke Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Alhasil, ya kontraknya pindah tangan.
Di sisi lain, perseroan memastikan bahwa seluruh rencana pembangunan kapal dari hasil IPO tetap berjalan sesuai jadwal. Tidak ada yang berubah dari komitmen awal.
Kapal pertama, misalnya, proses pembangunannya sudah berjalan sejak Desember tahun lalu. Target penyelesaiannya sekitar November 2026 nanti. Sedangkan untuk kapal kedua dan ketiga, saat ini masih menunggu persetujuan dari BKI. Begitu lampu hijau dari BKI diberikan, barulah pembangunan fisik benar-benar dimulai.
Sebagai catatan, dalam prospektus IPO-nya, PJHB memang berencana membangun tiga unit kapal Landing Craft Tank (LCT). Total investasinya mencapai Rp163 miliar. Rinciannya, kapal pertama dan ketiga masing-masing menelan biaya Rp57 miliar, sementara kapal kedua sedikit lebih rendah, yaitu Rp53 miliar.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 3,14 Persen, Saham Bank dan Konglomerasi Dorong Rebound
Bursa Asia Terpuruk, Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS ke Iran
IHSG Dibuka Melemah Tipis ke Level 5.744, Mayoritas Sektor Tertekan
Harga Emas Antam Kembali Turun, Buyback Terkoreksi Rp40.000 per Gram