Rosan, yang juga merangkap sebagai Menteri Investasi, melihat potensi di balik aset-aset bermasalah di industri ini. “Kita lihat, selama kita yakin bahwa nanti kita bisa turn around perusahaan itu melakukan restrukturisasi secara maksimal,” jelasnya. Meski begitu, ia tak merinci lebih jauh kaitannya dengan upaya penyelamatan PT Sri Rejeki Isman (Sritex) yang sedang dalam proses kepailitan.
Pasar Sepi, Tantangan Nyata di Lapangan
Namun begitu, di luar ruang rapat dan wacana investasi miliaran dolar, kondisi riil pasar tekstil justru sedang lesu. Coba tengok Pasar Tekstil Cipadu di Tangerang. Suasananya lengang, jauh dari hingar-bingar pusat perdagangan terbesar di wilayah itu. Pedagang lebih banyak duduk-duduk, ngopi, atau mengobrol, ketimbang melayani pembeli.
Edison, salah seorang pedagang yang sudah berjualan sejak 2005, merasakan betul penurunan ini. Menurutnya, kondisi mulai terasa sejak 2022, pasca pandemi, dan terus merosot. “Untuk saat ini toko aja sekarang banyak yang kosong nih,” keluhnya. Omzetnya pun hanya bertahan di angka recehan. Bertahan saja sudah syukur.
Untuk menyiasatinya, Edison mencoba peruntungan lewat penjualan online, meski skalanya masih terbatas. Pasokan dari industri rumahan dan garmen kecil juga semakin sulit karena banyak yang tutup. Yang cukup mencengangkan, bahkan menjelang Lebaran 2026 nanti, ia tak lagi berharap ada lonjakan permintaan seperti dulu. Produksi yang melemah, menurutnya, membuat kebutuhan bahan baku ikut merosot. Realitas inilah yang harus dihadapi oleh BUMN tekstil baru nanti, di tengah gempuran wacana besar dan angka-angka fantastis.
Artikel Terkait
PNM Ajak Pelajar SLTA Bikin Konten Bermakna, Bukan Cuma Viral
Titik Terang di Ladang Tua: PHR Temukan Cadangan Baru di Blok Rokan
ICP Anjlok ke USD 61,10, Pasar Minyak Dunia Dibayangi Super Glut
BKPM Prediksi Dominasi PMDN Makin Kuat, Didorong Geliat Danantara