Di Balik Kabut Bulusaraung, Seorang Ayah Bertahan Menunggu

- Senin, 19 Januari 2026 | 19:00 WIB
Di Balik Kabut Bulusaraung, Seorang Ayah Bertahan Menunggu

Sabtu lalu, langit di atas pegunungan Leang-Leang mendadak sunyi. Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang sedang dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Makassar, hilang kontak. Kini, pesawat itu dikonfirmasi jatuh di kawasan terjal Bulusaraung, di perbatasan Pangkep dan Maros.

Di tengah kerumitan operasi pencarian, ada seorang ayah yang memilih untuk menunggu. Bambang Muchwanto, datang jauh-jauh dari Malang, kini bertahan di Makassar. Ia menanti kabar tentang anak sulungnya, Dwi Murdiono, yang berada di pesawat naas itu.

Perjalanan panjang itu ditempuhnya bersama anak ketiganya, Tarmizi, sejak Minggu siang. Bayangkan saja, hampir 900 kilometer jaraknya. Sampai di Kota Daeng sekitar pukul delapan malam, Bambang langsung menuju Dokkes Polda Sulsel di Jalan Kumala. Di sana, sampel DNA-nya diambil. Tapi setelah proses itu selesai, ia tak bergeming. Dia memutuskan untuk tetap tinggal.

“Saya berangkat dari rumah siang tadi, sampai di Makassar malam,” katanya, suaranya hampir tak terdengar. “Saya nunggu di sini dulu, sampai anak saya ditemukan.”

Ceritanya, kabar buruk itu pertama kali sampai kepadanya dari seorang teman. Waktu itu Sabtu sore, sekitar pukul dua. Sejak detik itu, hidupnya seolah berhenti. Harapan dan kecemasan berbaur jadi satu.

“Setelah itu saya cuma bisa nunggu. Semoga anak saya selamat,” ucap Bambang.

Namun begitu, tekadnya sudah bulat. Ia merasa tak mungkin pulang sebelum ada kepastian. “Percuma datang jauh-jauh kalau cuma ambil sampel DNA,” harapnya. Ada kebanggaan terselip di balik dukanya. Dari keempat anaknya, hanya Dwi yang mengikuti jejaknya di dunia penerbangan sebagai engineer. Bambang sendiri sudah pensiun sejak masa pandemi. Kini, di tengah kabut yang menyelimuti gunung, yang ia inginkan sederhana: “Saya cuma ingin anak saya ditemukan.”


Halaman:

Komentar