Meski mengakui manfaat besar dari adanya koordinator keintiman, Pugh menyoroti masih maraknya permintaan dan arahan yang tidak pantas diberikan kepada para pemain. Ia mengungkapkan, meski dirinya pribadi cukup percaya diri dengan tubuhnya, kini ia menyadari bahwa banyak hal yang dulu diminta darinya ternyata tidak sepantasnya.
"Saya cukup percaya diri, nyaman dengan tubuh saya, dan selalu bisa memastikan suara saya terdengar. Meski begitu, ada banyak hal yang kini saya sadari betapa tidak pantasnya saya diminta melakukan hal itu," ungkapnya.
Pugh menekankan bahwa peran koordinator intim yang ideal tidak hanya sekadar menjaga batasan fisik, tetapi juga harus memikirkan aspek naratif dan kenyamanan emosional aktor. Ia baru menyadari hal ini setelah berkolaborasi dengan koordinator terbaik yang menekankan bahwa adegan intim harus lahir dari kebutuhan cerita, bukan sekadar pemenuhan syarat.
"Saya jadi lebih memahami maknanya, terutama saat bekerja dengan koordinator yang hebat dalam adegan seks," katanya. Pugh menambahkan, pembuatan adegan intim yang autentik harus menggali relasi emosional antar karakter, seperti durasi hubungan dan cara mereka berinteraksi.
Pengakuan Florence Pugh ini kembali memantik diskusi penting mengenai standar keamanan, etika, dan perlindungan bagi aktor dalam industri perfilman, khususnya saat menangani adegan yang menuntut kerentanan tinggi.
Artikel Terkait
Marcell Siahaan Rilis Menuju Cahaya, Single Religi dengan Sentuhan Istri dan Nuansa Elektronik
Selebritas Berparas Bule di Indonesia Kerap Disangka Mualaf, Padahal Muslim Sejak Lahir
Ammar Zoni Kecewa Saksi Kunci Tak Hadir di Sidang Narkoba
Ahmad Dhani Ungkap Kesulitan Ekonomi Saat Antar Anak Sambung Kuliah di AS