Stop! Jangan Lakban Mulut Balita yang Suka Gigit, Ini 5 Solusi Psikolog yang Lebih Manjur

- Selasa, 28 Oktober 2025 | 11:24 WIB
Stop! Jangan Lakban Mulut Balita yang Suka Gigit, Ini 5 Solusi Psikolog yang Lebih Manjur
Anak Balita Gigit Teman? Jangan Lakban Mulut! Ini Kata Psikolog

Anak Balita Gigit Teman? Jangan Lakban Mulut! Ini Kata Psikolog

Sebuah video viral di TikTok yang diunggah oleh akun @cinta_ibra menunjukkan seorang ibu yang melakban mulut anak balitanya. Tindakan ini dilakukan sang ibu karena anaknya terbukti menggigit teman sebayanya. Dalam video tersebut, terlihat sang anak tampak berkaca-kaca namun tidak menangis.

Meski telah melakukannya, sang ibu kemudian menyatakan penyesalan. Ia mengaku tidak tega dan akhirnya meminta maaf kepada anaknya atas tindakan tersebut.

Mengapa Balita Suka Menggigit? Ini Penjelasan Psikolog

Menanggapi kejadian ini, Psikolog Pendidikan, Madeline Jessica, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa perilaku seperti menggigit, memukul, atau menendang pada anak usia dini bukanlah tanda kenakalan. Perilaku ini justru merupakan bagian normal dari tahap perkembangan anak, khususnya di usia 1 hingga 5 tahun.

Madeline memaparkan bahwa pada usia ini, anak belum memiliki kemampuan yang matang untuk mengelola emosinya atau menyampaikan perasaan dengan cara yang tepat.

"Anak balita berada pada tahap pre-operational, di mana kemampuan memahami perasaan orang lain masih sangat terbatas. Hal ini menyebabkan anak cenderung bereaksi impulsif terhadap rasa frustasinya karena belum mampu menyalurkannya secara verbal," jelas Madeline.

5 Langkah Tepat Menghadapi Anak yang Menyakiti Teman

Lantas, apa yang harus dilakukan orang tua ketika anak menggigit atau menyakiti temannya? Daripada memberikan hukuman fisik atau verbal, orang tua disarankan untuk memberikan respons yang tenang dan mengajarkan empati. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Tenangkan Diri: Pastikan orang tua dalam kondisi tenang sebelum menegur anak.
  2. Validasi Emosi Anak: Akui perasaan anak dengan kalimat seperti, "Kamu marah, ya?"
  3. Jelaskan Akibat Perbuatannya: Beri pemahaman dengan mengatakan, "Temanmu jadi sakit karena digigit."
  4. Ajarkan Ekspresi Emosi yang Tepat: Arahkan anak dengan berkata, "Kalau marah, boleh bilang 'Aku marah!' bukan menggigit."
  5. Bantu Memperbaiki Hubungan: Ajak anak untuk meminta maaf dan menenangkan temannya, tanpa mempermalukannya.

Pendekatan Disiplin Positif untuk Anak Usia Dini

Madeline menganjurkan orang tua untuk menerapkan pendekatan disiplin yang berfokus pada pengajaran, bukan hukuman. Tujuannya adalah agar anak belajar mengatur diri sendiri (self-regulation) dan bertanggung jawab dalam hubungan yang penuh empati.

Prinsip utama dari pendekatan disiplin positif ini adalah:

  • Respectful: Tidak mempermalukan anak di depan umum.
  • Firm and Kind: Bersikap tegas namun tetap lembut dalam bertutur dan bertindak.
  • Fokus pada Solusi: Menitikberatkan pada pencarian solusi, bukan terus-menerus menyalahkan anak.

"Contoh penerapannya, jika anak menggigit teman, ajaklah ia untuk meminta maaf dan membantu menenangkan teman yang digigit. Atau, jika anak melempar mainan, mainan bisa disimpan sementara waktu sambil dijelaskan alasannya," pungkas Madeline.

Dengan memahami tahap perkembangan anak dan menerapkan disiplin positif, orang tua dapat membimbing anak melewati fase ini tanpa perlu menggunakan cara-cara ekstrem yang dapat berdampak negatif pada psikologis anak.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar