Tawuran di Cipinang Berujung Tragis, Warga Tewas Tertemper Kereta Saat Coba Melerai

- Rabu, 06 Mei 2026 | 11:25 WIB
Tawuran di Cipinang Berujung Tragis, Warga Tewas Tertemper Kereta Saat Coba Melerai

Tawuran antara dua kelompok warga di Cipinang, Jakarta Timur, berakhir tragis setelah seorang warga tewas tertemper kereta api saat berusaha melerai pertikaian. Peristiwa berdarah itu dipicu oleh lemparan petasan dari salah satu kelompok yang memicu ketegangan di lokasi kejadian.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi pada Selasa (5/5) pukul 18.19 WIB. Bentrokan melibatkan kelompok warga dari Kebon Singkong dan Cipinang Muara, tepatnya di Jalan I Gusti Ngurah Rai, Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara.

“Sekitar pukul 18.02 WIB, anak Kebon Singkong mengarahkan petasan ke arah Jagal RW 010 Kelurahan Cipinang,” ujar Kombes Budi Hermanto saat dihubungi pada Rabu (6/5/2026).

Di tengah kekacauan, korban yang diketahui bernama Nur Hasan berusaha melerai kedua kelompok yang saling serang. Namun, nahas, ia justru menjadi korban dalam insiden yang tidak terduga. Menurut keterangan sejumlah saksi, korban sebelumnya telah berupaya mencegah warga RW 010 Cipinang Jagal agar tidak terpengaruh dan melawan aksi penyerangan dari kelompok seberang.

“Nur Hasan saat itu menyuruh warganya untuk masuk ke rumah masing-masing. Ia berdiri di tengah-tengah rel kereta api,” jelas Kombes Budi.

Pada saat yang bersamaan, dua kereta api datang dari arah Jakarta menuju Bekasi dan Jawa. Karena posisi korban berada tepat di tengah rel, ia tidak sempat menyelamatkan diri dan akhirnya tertemper hingga tewas di tempat. Jasad korban ditemukan dalam kondisi tergeletak dan kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk penanganan lebih lanjut.

Sementara itu, Kombes Budi Hermanto mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga situasi yang kondusif. Ia juga meminta warga segera menghubungi call center Polri di nomor 110 apabila menemukan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat atau membutuhkan bantuan darurat.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar