Nasabah PNM Mekaar di Serang Berhasil Tekan Sampah Rumah Tangga hingga 55 Persen Lewat Bank Sampah MATA

- Selasa, 28 April 2026 | 13:15 WIB
Nasabah PNM Mekaar di Serang Berhasil Tekan Sampah Rumah Tangga hingga 55 Persen Lewat Bank Sampah MATA

IDXChannel Tumpukan sampah di tempat pemrosesan akhir makin menggunung. Datanya jelas, angkanya naik terus. Tapi di balik itu semua, kesadaran untuk mulai memilah dan mengolah limbah dari rumah jadi semakin krusial. Soalnya, rumah tangga adalah penyumbang terbesar sampah ke TPU.

Selama ini, sampah sering dianggap sebagai beban. Padahal, kalau dikelola dengan benar, ia bisa jadi peluang ekonomi. Bahkan dampaknya bisa positif buat lingkungan dan sosial. Nah, di Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, ada seorang nasabah PNM Mekaar yang jadi motor perubahan dari akar rumput. Namanya Ibu Amaliyah.

Ceritanya bermula dari usaha rumahan yang dirintis sejak 2019. Awalnya ia cuma jualan kue. Tapi sekarang? Bisnisnya berkembang, dan yang lebih penting, ia juga menginisiasi pengolahan sampah. Bukan cuma bernilai ekonomi, tapi juga punya manfaat sosial buat warga sekitar.

Perjalanan Ibu Amaliyah bersama PNM mulai terasa akselerasinya setelah dapat pemberdayaan dari program PNM Mekaar pada 2023. Bukan cuma modal tambahan yang ia dapat. Ada pendampingan dan pembinaan yang bikin kapasitas usahanya naik kelas.

Lewat PNM, ia mengembangkan brand Amalia Kitchen usaha kue rumahan. Uniknya, sampah dari produksi kue itu nggak dibuang begitu saja. Ia olah jadi berbagai hal: aroma terapi, bahkan sofa ecobrick. Tapi makin besar produksi, makin banyak pula sampah yang menumpuk. Tantangan itu direspons dengan langkah cerdas. Ia mulai mengajak ibu-ibu lain untuk ikut memilah sampah dari rumah masing-masing.

Dari situ lahirlah Bank Sampah MATA kependekan dari Masigit Asri Tanpa Sampah. Anggotanya sekarang 86 orang. Setiap kilogram sampah yang disetor, diganjar dengan rupiah. Lebih dari sekadar bisnis, Ibu Amaliyah juga menyisihkan sebagian keuntungan untuk anak yatim dan dhuafa. Ia bilang dengan mata berkaca-kaca,

“Saya tidak pernah menyangka, yang awalnya hanya ibu-ibu dasteran yang ngumpulin sampah, kini bisa sampai jadi juara Mekaarpreneur. Alhamdulillah, dari kegiatan sederhana ini saya justru bisa berbagi dan memberi manfaat untuk orang lain.”

Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, menambahkan, “Apa yang dilakukan Ibu Amaliyah adalah gambaran nyata dari semangat yang ingin terus PNM tumbuhkan. Dari hal sederhana, dapur rumahan, bisa lahir dampak yang luas, bukan hanya menguatkan ekonomi keluarga, tapi juga menghadirkan kepedulian sosial dan menjaga lingkungan di sekitar.”

Dampaknya kini terasa langsung di Kampung Masigit. Dulu, tumpukan sampah yang dikirim ke TPU mencapai 900 kg per bulan. Sekarang? Turun drastis jadi cuma 400 kg. Artinya, inisiatif ini bukan cuma soal lingkungan. Ada peluang ekonomi baru yang terbuka. Dengan pemilahan yang rapi, sampah yang tadinya masalah besar berubah jadi sumber berkah. Manfaatnya langsung terasa buat warga sekitar.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler