Belum selesai urusan yang satu itu, masalah lain datang bertubi. Mobil kedua Pak Tarno tiba-tiba saja jadi masalah. Sopirnya, berinisial S, diduga menggadaikan kendaraan itu tanpa izin bersama seorang rekan. Padahal, mobil itulah andalan Pak Tarno untuk mobilitas sehari-hari.
Menurut penuturan Lisa, awalnya nilai gadainya kecil. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba jumlahnya melonjak drastis hingga puluhan juta. Alhasil, tagihan dari perusahaan leasing pun datang menggedor-gedor pintu.
Di tengah situasi serba sulit ini, manajer Pak Tarno yang sekarang, Laura, mengaku hanya bisa berusaha seadanya. Upaya mereka terbatas, tanpa dukungan jalur hukum yang resmi. Semua dilakukan sebisanya, dengan cara mereka sendiri.
Akibatnya, Pak Tarno seperti tak punya pilihan. Dia memilih untuk pasrah, meski hati kecilnya tentu sakit. Kerugian materi yang dideritanya tidak sedikit, namun jalan untuk memperjuangkan keadilan terasa tertutup. Meski begitu, harapan kecil masih tersisa. Dia berharap keadaan bisa berbalik baik. Dan satu keinginan sederhana: bisa punya kendaraan lagi agar aktivitasnya kembali normal seperti dulu.
Artikel Terkait
Amalan Shalawat Ummi 80 Kali Usai Ashar Jumat, Dosa 80 Tahun Diampuni
Lindi Fitriyana Ungkap Surat Cinta untuk Calon Bayi di Media Sosial
Lindi Fitriyana Konfirmasi Kehamilan Lewat Unggahan Instagram
Anrez Adelio Bantah Tudingan Penelantaran Anak via Kuasa Hukum