Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan kabar baik untuk tiga provinsi di Sumatera yang baru saja dilanda bencana. Ia memastikan, dana Transfer ke Daerah atau TKD untuk wilayah-wilayah terdampak itu sama sekali tidak akan dipotong. Bahkan, pemerintah justru memberi perlakuan khusus.
"Yang dipastikan adalah dia limitnya enggak dipotong seperti yang lain karena daerah bencana," tegas Purbaya.
Penegasan itu disampaikannya di Taman Mini Indonesia Indah, Minggu (18/1) lalu. Menurutnya, dengan menaikkan batas penyaluran, daerah punya ruang fiskal yang lebih lega untuk menangani segala kerusakan. Jadi, urusan dana tanggap darurat seharusnya tak jadi persoalan.
Secara mekanisme, TKD memang sudah jalan rutin. Ditransfer tiap bulan. Soal ketersediaan, menurut Purbaya, sebenarnya tak ada masalah mendasar.
"TKD kan pasti mau ditransfer. Setiap bulan ada," ujarnya.
"Cuman dengan adanya itu (bencana) kan batasnya dinaikin. Sampai mereka dapat sekitar Rp 9 triliun, tiga provinsi itu (Aceh, Sumut, Sumbar). Senin juga udah ada kan biasa ada terus. Hanya kalau dipotong kan habis kesananya sekarang kan enggak."
Di sisi lain, Purbaya menuturkan kondisi kas daerah penerima juga terpantau cukup sehat. Bukan cuma tidak kekurangan, bahkan masih ada sisa anggaran yang belum terserap optimal. Makanya, penyaluran dana tetap dilakukan sesuai jadwal biasa tanpa perlu buru-buru.
"Setiap bulan, kan tiap bulan dia di transfer, yang ada saja belum habis," jelasnya.
"Belom abis yang ada saja. Yang di daerah itu banyak duitnya, belum dihabisin. Jadi setiap bulan kita kirim tanggal 2 kalau enggak salah."
Memang, ada saja permintaan untuk mempercepat penyaluran. Secara teknis, hal itu bisa saja diwujudkan. Tapi Purbaya menilai, untuk saat ini, percepatan itu tidak mendesak. Yang jauh lebih penting justru memastikan batasnya tidak dikurangi, sehingga fleksibilitas fiskal daerah tetap terjaga.
Pada akhirnya, penyaluran akan tetap mengikuti termin yang berlaku. Meski begitu, opsi untuk menarik dana lebih awal tetap terbuka jika suatu saat benar-benar dibutuhkan.
Namun begitu, dengan kondisi kas yang masih longgar, Purbaya melihat belum ada urgensi.
"Kalau mereka mau pakai ambil depan ya bisa ambil depan. Cuman kan gini. Mereka enggak kekurangan cash, sekarang uangnya banyak. Habisin dulu saja," tegasnya sekali lagi.
"Jadi santai saja itu, yang penting limitnya cukup tinggi seperti biasanya. Enggak seperti lainnya yang dipotong gitu saja."
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Tolak Pinjaman IMF-Bank Dunia USD 30 Miliar, Andalkan Cadangan Negara
Petrosea Lepas Saham Kemilau Mulia Sakti Rp1,73 Triliun demi Fokus Bisnis Inti
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp329,41 Miliar dari 50% Laba Bersih 2025
Wall Street Bangkit Didorong Optimisme AI dan Laporan Keuangan Kuat