Kondisi TPA Muara Fajar di Pekanbaru benar-benar memprihatinkan. Gunungan sampah yang menggunung itu bukan lagi sekadar pemandangan yang tak sedap dipandang, melainkan sudah masuk status darurat. Ancaman bencana ekologis dan sosial mengintai, karena tempat pembuangan akhir itu sudah jauh melampaui batas kapasitasnya.
Siang itu, Kamis (5/3/2026), suasana di lokasi tampak berbeda. Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, turun langsung meninjau tumpukan masalah tersebut bersama jajaran Pemkot Pekanbaru. Intinya jelas: penanganan harus segera dilakukan, sebelum semuanya terlambat.
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, menjelaskan kekhawatiran itu dengan gamblang.
"Jika tidak segera diintervensi, metode open dumping berpotensi memicu bencana kebakaran gas metana, pencemaran lingkungan akut, hingga kelumpuhan sistem tata kelola kota yang dapat memicu konflik sosial di masyarakat," ujarnya.
Angkanya sendiri mencengangkan. Bayangkan, dengan populasi yang mencapai lebih dari 1,16 juta jiwa, sampah yang dihasilkan Pekanbaru setiap harinya diproyeksikan menyentuh 1.378 ton lebih. Ratusan ton di antaranya berakhir di Muara MURIANETWORK.COM, yang jelas-jelas sudah tak sanggup lagi menampung.
Masalahnya kompleks. Bertahun-tahun, sistem yang dipakai cuma open dumping alias buang dan timbun begitu saja. Cara kuno ini sangat berisiko. Ditambah lagi, alat berat terbatas, jalan akses rusak, dan pengelolaan air lindi yang amburadul. Semua faktor ini saling memperparah keadaan.
Di sisi lain, dampaknya sudah merambah ke ranah sosial. Lingkungan yang kumuh dan terlihat tak terurus secara sosiologis bisa menjadi sarang kejahatan dan menekan produktivitas warga. Ini bukan cuma soal bau atau pemandangan. Ini bom waktu yang nyata.
Oleh karena itu, solusi tambal sulam sudah pasti tak memadai. Pola lama harus ditinggalkan. Muara Fajar butuh transformasi total, tata kelola yang radikal, dan sentuhan teknologi untuk mengurai krisis dari akarnya.
Menanggapi hal ini, Kapolda punya usulan. Pandra Arsyad menyebutkan, atasan mereka menawarkan solusi pengelolaan sampah berbasis waste-to-energy (WTE) kepada Pemkot.
"Bapak kapolda menawarkan teknologi WTE untuk mengelola sampah menjadi energi, yang tentunya hal ini sejalan juga dengan semangat Green Policing," katanya.
Dengan teknologi itu, sampah yang selama ini jadi masalah bisa dikonversi menjadi sumber energi listrik tenaga biogas. Sebuah harapan baru di tengah tumpukan persoalan yang sudah menggunung.
Artikel Terkait
Trump Tuduh Iran Langgar Gencatan Senjata Usai Serangan di Selat Hormuz
Gedung Putih Pastikan Wapres AS Pimpin Delegasi ke Pakistan untuk Bicara dengan Iran
Trump Unggah Gambar AI Dirinya Serupa Yesus, Kian Panaskan Ketegangan dengan Vatikan
Mentan Klaim Stok Beras 4,9 Juta Ton Siap Hadapi El Nino 2026