PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana menjaga produksi batu baranya tetap stabil. Angkanya? Sekitar 73 hingga 75 juta ton setiap tahun. Target yang ambisius ini punya dasar yang kuat: cadangan batu bara mereka yang terbukti mencapai 2,5 miliar ton.
Yudicia Retnodewi, Head of Investor Relations BUMI, mengungkapkan bahwa perusahaan masih memegang status sebagai produsen batu bara thermal terbesar di tanah air. Dua tambang raksasa, Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin, menjadi tulang punggung operasi mereka.
“Dan di tahun 2025 ini, most likely estimasi kita juga tetap di angka 73-75 juta ton untuk full year 2025. Ini adalah data historis produksi kita dari tahun 2001 sampai estimasi 2025,”
ujar Yudicia dalam acara Investor Gathering 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis lalu.
Menurutnya, realisasi produksi di tahun 2024 lalu mencapai 74,7 juta ton. Itu setara dengan sekitar 9 persen dari total produksi nasional. Nah, untuk tahun 2025 ini, perusahaan memperkirakan volume produksi akan bertahan di kisaran yang sama.
Di sisi lain, kekuatan BUMI tidak cuma terletak pada angka produksi. Lokasi tambangnya yang strategis disebut-sebut memudahkan distribusi ke pasar global, terutama di Asia dan Eropa. Operasionalnya didukung fasilitas pertambangan terbuka dan pengolahan yang berjalan nonstop 24 jam sepanjang tahun. Belum lagi infrastruktur pendukung seperti terminal muat, pelabuhan, hingga captive power plant yang jadi keunggulan kompetitif mereka.
Yang menarik, cadangan dan sumber daya mereka jauh lebih besar dari angka produksi tahunan. Yudicia menyebut, selain cadangan terbukti 2,5 miliar ton, sumber daya (resource) yang dimiliki mencapai 6,8 miliar ton. Semua itu bersumber dari tiga lokasi: KPC, Arutmin, dan juga tambang Pendopo.
Namun begitu, BUMI rupanya tidak hanya berpangku tangan pada batu bara. Perusahaan mulai merambah diversifikasi bisnis untuk mengantisipasi gejolak pasar. Mereka sudah memegang saham di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan mulai menggarap komoditas mineral lain, seperti emas, perak, dan bauksit.
Lalu, bagaimana kinerja keuangannya? Hingga sembilan bulan pertama 2025, BUMI mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 12 persen. Laba kotor juga naik 7 persen. Memang, laba bersihnya turun cukup signifikan, 56 persen. Tapi penurunan ini, kata perusahaan, lebih karena ada penyesuaian transaksi non-tunai pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
“Secara full year, kalau dilihat dari 2024 versus 9 bulan 2025, kita masih on-track untuk growth dari batu baranya ini dari pendapatan selama full year 2025,”
tutup Yudicia optimistis.
Artikel Terkait
Petinggi BCA Borong Saham Sendiri di Tengah Tekanan Jual
IMF Peringatkan Utang AS Capai 125% PDB, Butuh Penyesuaian Fiskal Terbesar
Cerebras Systems Ajukan IPO di Nasdaq Didukung Komitmen Besar OpenAI
Harga Minyak Sawit Malaysia Melemah, Dihantam Permintaan Lesu dan Anjloknya Harga Minyak Dunia