Kelompok separatis di Yaman bersikukuh tak akan mundur. Mereka menolak seruan koalisi pimpinan Arab Saudi untuk menarik diri dari wilayah yang mereka kuasai. Pernyataan keras ini muncul hanya beberapa jam setelah serangan udara mengguncang sebuah pelabuhan di bawah kendali mereka, yang diduga menjadi tempat bongkar muat senjata.
“Mundur? Sama sekali tidak terpikirkan. Mustahil pemilik tanah diminta pergi dari tanahnya sendiri. Situasi sekarang justru menuntut kami untuk bertahan dan memperkuat posisi,” tegas Anwar Al-Tamimi, juru bicara Dewan Transisi Selatan (STC).
Dia menambahkan, pihaknya siap membalas.
“Kami dalam posisi bertahan. Setiap gerakan menuju pasukan kami akan mendapatkan respons yang setimpal,” ucap Al-Tamimi.
Menurutnya, Arab Saudi sudah mengerahkan sekitar 20.000 personel keamanan di sepanjang perbatasan yang berdekatan dengan posisi STC. Langkah ini semakin memanaskan ketegangan yang sudah memuncak.
Memang, dalam beberapa pekan terakhir, kelompok separatis yang didukung Uni Emirat Arab ini bergerak sangat cepat. Mereka berhasil merebut wilayah-wilayah penting dalam serangan kilat, menghidupkan kembali cita-cita negara Yaman Selatan yang merdeka. Para pengamat melihat, kesuksesan ini ibarat tamparan bagi Arab Saudi, yang selama ini jadi pendukung utama pemerintah Yaman yang diakui dunia internasional.
Artikel Terkait
Fuji Utami Tegaskan Tak Arahkan Gala Sky ke Dunia Hiburan
Pemerintah Wajibkan ASN WFH Setiap Jumat untuk Hemat Energi, Potensi Penghematan Capai Rp 6,2 Triliun
Dishub Bogor Tilang Taksi Konvensional Jakarta karena Ngetem dan Operasi di Luar Wilayah
PP TUNAS Diresmikan, Perlindungan Anak di Ruang Digital Diperkuat Jelang Hari Penyiaran